PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
ANAK DENGAN GANGGUAN PRILAKU
ADD/ADHD DAN ODD
A. Pengertian
ADD/ ADHD dan ODD
Salah satu gangguan yang
cukup menghambat proses perkembangan anak adalah gangguan perilaku, karena
dapat memunculkan banyak permasalahan dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk
gangguan perilaku yang umumnya terjadi pada anak usia dini dan usia sekolah
adalah hiperaktivitas atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
dan ODD (Oppositional Defiant Disorder).
1.
Attention Deficit Disorder (ADD)
Attention Deficit Disorder
(ADD) merupakan gangguan perkembangan
pemusatan perhatian yang disebabkan oleh berbagai macam faktor. Perilaku anak
ADD yang cenderung impulsive dan inatention menyebabkan kesulitan dalam
menjalin hubungan dengan orang lain sehingga mengakibatkan secara social anak
tidak punya teman dan agresif. Untuk itulah diperlukan suatu penanganan yang
tepat bagi anak ADD.
2.
ADHD
Hyperactivity Disorder
(ADHD) adalah gangguan fungsi perkembangan saraf dengan gejala berupa
ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktivitas dan impulsivitas yang tidak
sesuai dengan usia perkembangan. ADHD merupakan suatu gangguan
perilaku yang didalamnya mengandung simptom perhatian yang kurang, hiperaktif,
dan implusif. Gangguan
ini umumnya menyebabkan anak mengandung berbagai permasalahan baik pada dirinya
sendiri, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sekitarnya. ADHD
banyak di alami oleh anak laki-laki dari pada anak perempuan dengan estimesi
2-4 % untuk anak perempuan, dan 6,9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun.
Salah satu gangguan
perkembangan pada anak adalah gangguan pemusatan perhatian atau istilahnya Attention
Deficit Disorder (ADD). ADD adalah adanya pola yang menetap dari innatention
yang disertai dengan impulsivitas pada seseorang. Gejala ini dapat diketahui
sebelum usia 7 tahun dan dapat terjadi dalam berbagai macam situasi seperti
rumah, sekolah, bermain atau situasi sosial lainnya.
Perilaku anak ADD yang
cenderung seenaknya sendiri, seringkali menyebabkan ia mengalami kesulitan
untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, baik orangtua, teman
sebaya atau lingkungan sekitarnya. Perilaku mereka ini sebenarnya tidak
disadari sepenuhnya oleh si anak. Hal ini lebih disebabkan oleh faktor internal
dimana ia tidak pernah berpikir panjang dan mudah beralih perhatiannya pada
stimulus yang menariknya. Selain itu anak ADD cenderung tidak dapat
mengendalikan diri sehingga membuatnya kelihatan tidak tahu norma-norma yang
ada.
3.
Oppositional Defiant Disorder (ODD)
Menurut American
Psychiatric Association mengatakan Oppositional Defiant Disorder (ODD)
merupakan gangguan emosi dan perilaku yang menunjukkan sikap tidak pantas di
usianya yang terjadi secara berulang-ulang, seperti keras kepala, bermusuhan
dan melawan figur otoritas.
Oppositional Defiant
Disorder (ODD) yaitu gangguan dimana anak suka menentang,
perilaku ini berupa cepat hilang kesabaran, suka berdebat atau melawan
perkataan orang dewasa, menolak untuk mematuhi aturan, sengaja membuat jengkel
orang lain, menyalahkan orang lain, mudah tersinggung, mudah dengki dan mudah
marah. Oppotional Defiant Disorder (ODD)
adalah keterampilan sosial yang rendah terhadap teman sebaya maupun orang
dewasa serta melanggar tata tertib di sekolah dan di rumah. Keterampilan sosial
yang rendah dari anak gangguan emosi dan perilaku berupa Oppotional-Defiant
Disorder (ODD) berdampak pada pemberian label “nakal” yang diberikan oleh
orang awam pada anak serta adanya penolakan lingkungan, termasuk lingkungan
pertemanan dan pendidikan.
Perilaku marah, menentang, kemampuan
sosial yang rendah dan bermusuhan merupakan perilaku umum yang ditunjukkan anak
ODD sebagai bentuk agresif secara verbal dan fisik prevalensi anak dengan ODD
di dunia berkisar antara 1% sampai 11%, dengan perkiraan prevalensi rata-rata
sekitar 3,3%. Seringkali terjadi pada anak laki-laki dan mungkin jumlahnya akan
terus bertambah, khusunya karena faktor lingkungan.
Terdapat
teori mengenai penyebab ODD yang sudah diteliti, yaitu:
a.
Temperamen anak dan respon keluarga terhadap
temperamen anak tersebut
b.
Terdapat keturunan gangguan ODD pada beberapa
keluarga
c.
Ada sebab neurologis, seperti cedera otak
d.
Adanya ketidakseimbangan di otak (terutama
serotonin)
Faktor
keluarga juga dapat menyebabkan munculnya ODD antara lain pengasuhan yang tidak
konsisten, gangguan mental pada orangtua, hukuman pada anak yang terlampau
keras, sering berpindah-pindah tempat tinggal, serta perceraian orangtua.
Sementara
faktor lingkungan juga dapat meningkatkan agresifitas anak ODD, antara lain
model perilaku agresif atau kata-kata kasar yang diperoleh dari orang dewasa
maupun teman sebaya di lingkungan tempat tinggal ataupun di lingkungan sekolah.
Selain itu, media massa serta media elektronik juga ditemukan dapat
meningkatkan agresifitas anak, misalnya tayangan di televisi atau video game
yang di dalamnya banyak terdapat unsur kekerasan.
B. Gejala Anak dengan Ganguan
Perilaku ADD/ADHD dan ODD
1.
Gejala ODD
·
Suasana hati mudah marah atau tersinggung
·
Perilaku menentang atau membantah
·
dendam
2.
Gejala ADHD
·
Tidak konsentrasi
·
Impulsif
·
Jarang duduk diam, selalu resah
C. Ciri-ciri
Anak dengan Ganguan Perilaku ADD/ADHD dan ODD
1. ADD/ADHD
a. perilaku
menantang dan agresif
b. permasalahan
umum anak ADHD yaitu permasalahan pada asfek fisikal, perilaku, kognitif,
akademik, social, dan emosi. Problem-problem tersebut akan menghambat anak
untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya dan mengganggu orang lain di
sekitarnya.
c. Faktor
pra dan pasca natal, pola asuh orangtua, faktor genetik
d. seenaknya
sendiri
e. kesulitan
untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, baik orangtua, teman
sebaya atau lingkungan sekitarnya
f.
selalu gagal dalam menyelesaikan tugas
sekolah, tidak teliti dalam mengerjakan suatu tugas.
g. Kesulitan
anak ADD dalam memusatkan perhatian nantinya akan berdampak pada beberapa aspek
kehidupannya, antara lain dalam proses pembelajaran dan sosialisasinya.
Biasanya mereka mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Daya tangkap
visual anak ADD tidak dapat dipahami dan diolah secara benar di otaknya
sehingga hal ini seringkali membuatnya kesulitan terlebih saat belajar membaca
dan menulis.
2. ODD
a. anak
yang memiliki perilaku tidak patuh, menentang, dan sikap bermusuhan terhadap
orang tua, guru, orang dewasa lainnya, serta teman sebaya.
b. anak
yang memiliki perilaku tidak patuh, menentang, dan sikap bermusuhan terhadap
orang tua, guru, orang dewasa lainnya, serta teman sebaya.
c. Anak
dengan gangguan emosi dan perilaku memiliki keterbatasan antara lain kesulitan
dalam memusatkan perhatian, kesulitan mengendalikan diri, daya tahan rendah
merespon tugas
d. Salah
satu faktor terjadinya gangguan perilaku ODD berupa ketidakmampuan anak
membangun hubungan sosial dengan lingkungan sebagian besar diakibatkan oleh modelling
dan pola asuh dari kedua orang tua yang secara signifikan akan membentuk
kepribadian atau pola perilaku pada anak. Orangtua harus melibatkan diri secara
langsung agar seluruh aspek perkembangan yang positif dapat dihasilkan salah
satu faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial yang rendah pada seorang
anak, antara lain, cara pengasuhan yang terlalu otoriter atau terlalu permisif
(low management behaviour), sehingga anak kesulitan untuk membentuk
interaksi positif dengan orangtua maupun lingkungan sosial.
D. Cara
Penanganan Anak dengan Ganguan Prilaku
1. ADD/ADHD
a. Terapi
okupasi
Beberapa tindakan penanganan yang dapat dilakukan
untuk membantu anak ADHD antra lain salah satunya terapi okupasi yaitu profesi
kesehatan yang merupakan bagian dari rehabilitasi medic, bertujuan membantu
individu dengan kelainan dan atau gangguan fisik, mental maupun social, dengan
penekanan pada asfek psikomotorik dan proses neorulogis (saraf).
Terapi okupasi memperhatikan asset (kemampuan) dan
keterbatasan yang dimiliki anakdengan memberikan manajemen aktifitas yang
bertujuan dan bermakna. Dengan demikian di harapkan anak dapat mencapai kemandirian
dalam aktifitas produktifitas (sekolah/ akademis) kemampuan perawatan diri (self
care) serta bermain sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
b. Play
therapy
Play therapy merupakan
suatu bentuk terapi dimana seorang anak melakukan kegiatan bermain dalam
situasi dan kondisi yang tertentu menggunakan media agar dapat menyalurkan
perasaan takut, benci, kemarahan, kegelisahan dan perasaan emosional lainnya.
c. Memberikan
pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak
Karakteristik anak ADD sangat bervariasi. Pada
beberapa anak, kurangnya perhatian merupakan kekurangan yang utama. Anak- anak
seperti ini mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi terhadap tugas khusus,
pelupa, mudah bingung, keterlekatan dengan tugas sangat kurang. Pembelajaran
yang sesuai diperlukan untuk mengatasi masalah dari karakeristik anak dengan
ADD tersebut. Pembelajaran yang biasa dilakukan guru yaitu dengan memodifikasi
lingkungan ketika anak ADD belajar di dalam kelas. Modifikasi pembelajaran
yaitu menempatkan anak untuk menjaga perhatiannya ketika belajar dan mendorong
anak untuk mengontrol perilakunya.
Tetapi
pembelajaran dengan memodifikasi perilaku hanya bisa dilakukan dan mempunyai
dampak baik ketika anak ADD berada di dalam kelas saja. Sedangkan untuk
perilaku di masyarakat dan sosialisasi dengan lingkungan masih belum dapat
dikontrol dengan baik melalui modifikasi perilaku. Diperlukan suatu
pembelajaran yang menarik bagi anak ADD dalam proses pembelajaran yang efeknya
berpengaruh tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan
bermasyarakatnya.
2. ODD
a. Kemampuan
guru dalam memenajemen kelas
Dalam menghadapi problem manajemen diri yang buruk
dari siswa yang mengalami gangguan perilaku dapat dilakukan dengan kemampuan
guru kelas mengatasi secara dini masalah manajemen diri yang buruk pada anak
ODD. Kemampuan yang dimiliki dapat berupa kemampuan guru dalam memanajemen
kelas dan monitoring melalui diskusi pribadi.
b. Memenajemen
diri anak
Manajemen diri pada anak maksudnya adalah anak mampu
memunculkan perilaku dan sikap yang idealnya telah dipaparkan pada tugas
perkembangan anak. Orang tua yang memiliki ketrampilan kontrol diri yang tinggi
akan mempunyai kemampuan yang tinggi pula dalam mendidik anaknya bagaimana
mengembangkan kontrol diri agar terbentuknya manajemen diri yang baik. Hal ini
terlihat dari bagaimana orang tua menciptakan pola asuh yang positif, kondusif,
dan konstruktif bagi perkembangan anaknya.
Strategi Intervensi Berbasis Sekolah adalah suatu
strategi yang disiapkan untuk digunakan oleh para guru dalam mengatasi
manajemen diri anak yang mengalami gangguan perilaku ODD yang berusia 6 – 12
tahun dengan efektif. Strategi ini terbagi atas tiga tahap yaitu: tahap pertama
terdiri atas keterampilan mikro manajemen kelas, tahap kedua terdiri atas
diskusi pribadi individu (atau dalam kelompok kecil), monitoring dan penentuan
tujuan, tahap ketiga terdiri atas pelatihan.
c. parent
management training
hubungan yang terbuka dan saling menyayangi antara
orangtua dengan anak akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatnya
citra diri, keterampilan menguasai situasi, emosi, dan kesehatan anak. melalui
prinsip-prinsip modifikasi perilaku dalam parent management training mampu
meningkatkan keterampilan sosial pada anak oppositional defiant disorder.
Parent Management Training (PMT) merupakan intervensi yang diberikan kepada orangtua berupa teknik pembelajaran sosial untuk mengubah perilaku anak-anak atau remaja.
Parent Management Training didefinisikan sebagai bentuk pelatihan bagi orangtua yang berfokus pada pengajaran strategi pengasuhan untuk menangani masalah perilaku dan menerapkan program modifikasi perilaku guna meningkatkan kualitas hubungan antara anak dan orangtua.
ANAK DENGAN GANGGUAN PANCA INDERA
A. Pengertian Gangguan Penglihatan
Kebanyakan definisi ketunanetraan didasarkan pada akibat ketunanetraan itu sendiri pada penyandangnya. Meskipun demikian dalam tulisan ini dikemukakan dua definisi yaitu definisi secara medis dan definisi pendidikan.
1. Definisi Medis
Definisi medis ini didasarkan pada ketajaman penglihatan dan lantang pandangan. Seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan (visus) 20/200 atau kurang tergolong buta. Sedangkan yang memiliki visus antara 20/70 tergolong low vision. Meskipun seseorang memiliki ketajaman penglihatan normal tetapi lantang pandangannya kurang dari 20 derajat juga tergolong buta. Karena definisi medis ini semata-mata didasarkan pada ketajaman penglihatan sering ditemukan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan sama tetapi kemampuan penggunaan penglihatannya berbeda. Di samping itu berdasarkan data statistik bahwa seseorang yang digolongkan buta keadaan penglihatannya sangat beragam.
2. Definisi Pendidikan
Penggolongan ketunanetraan berdasarkan media apa yang digunakan untuk membaca dan menulis merupakan dasar dari definisi pendidikan. Seseorang yang belajar dengan menggunakan indera perabaan dan pendengaran digolongkan sebagai buta.
Sedangkan seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca meskipun dengan tulisan yang diperbesar (diadaptasi) mereka digolongkan sebagai low vision. Seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya tetapi mengalami gangguan pada situasi tertentu tergolong sebagai limited vision.
B. Dampak dari Gangguan Penglihatan
Penglihatan merupakan salah satu saluran informasi yang sangat penting bagi manusia selain pendengaran, pengecap, pembau, dan perabaan. Pengalaman manusia kira-kira 80 persen dibentuk berdasarkan informasi dari penglihatan. Di bandingkan dengan indera yang lain indera penglihatan mempunyai jangkauan yang lebih luas. Pada saat seseorang melihat sebuah mobil maka ada banyak informasi yang sekaligus diperoleh seperti misalnya warna mobil, ukuran mobil, bentuk mobil, dan lain-lain termasuk detail bagian-bagiannya. Informasi semacam itu tidak mudah diperoleh dengan indera selain penglihatan.
Kehilangan indera penglihatan berarti kehilangan saluran informasi visual. Sebagai akibatnya penyandang kelainan penglihatan akan kekuarangan atau kehilangan informasi yang bersifat visual. Seseorang yang kehilangan atau mengalami kelainan penglihatan, sebagai kompensasi, harus berupaya untuk meningkatkan indera lain yang masih berfungsi. Seberapa jauh dampak kehilangan atau kelainan penglihatan terhadap kemampuan seseorang tergantung pada banyak faktor misalnya kapan (sebelum atau sesudah lahir, masa balita atau sesudah lima tahun) terjadinya kelainan, berat ringannya kelainan, jenis kelainan dan lain-lain. Seseorang yang kehilangan penglihatan sebelum lahir sering sampai usia lima tahun pengalaman visualnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Sedangkan yang kehilangan penglihatan setelah usia lima tahun atau lebih dewasa biasanya masih memiliki pengalaman visual yang lebih baik tetapi memiliki dampak yang lebih buruk terhadap penerimaan diri.
1. Dampak terhadap Kognisi
Kognisi adalah persepsi individu tentang orang lain dan obyek-obyek yang diorganisasikannya secara selektif. Respon individu terhadaporang dan obyek tergantung pada bagaimana orang dan obyek tersebut tampak dalam dunia kognitifnya ,dan citra atau “peta” dunia setiap orang itu bersifat individual. Setiap orang mempunyai citra dunianya masingmasing karena citra tersebut merupakan produk yang ditentukan oleh factor-faktor berikut: (1) Lingkungan fisik dan sosisalnya, (2) struktur fisiologisnya, (3) keinginan dan tujuannya, dan (4) pengalaman-pengalaman masa lalunya.
Dari keempat faktor yang menentukan kognisi individu tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya, dan mereka harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-indera lainnya untuk mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga konsepsi orang awas mereka tentang dunia ini sejauh tertentu mungkin berbeda dari konsepsi orang awas pada umumnya.
2. Dampak terhadap Keterampilaan Sosial
Orang tua memainkan peranan yang penting dalam perkembangan sosial anak. Perlakuan orang tua terhadap anaknya yang tunanetra sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap ketunanetraan itu, dan emosi merupakan satu komponen dari sikap di samping dua komponen lainnya yaitu kognisi dan kecenderungan tindakan. Ketunanetraan yang terjadi pada seorang anak selalu menimbulkan masalah emosional pada orang tuanya. Ayah dan ibunya akan merasa kecewa, sedih, malu dan berbagai bentuk emosi lainnya. Mereka mungkin akan merasa bersalah atau saling menyalahkan, mungkin akan diliputi oleh rasa marah yang dapat meledak dalam berbagai cara, dan dalam kasus yang ekstrem bahkan dapat mengakibatkan perceraian. Persoalan seperti ini terjadi pada banyak keluarga yang mempunyai anak cacat.
Pada umumnya orang tua akan mengalami masa duka akibat kehilangan anaknya yang “normal” itu dalam tiga tahap; tahap penolakan, tahap penyesalan, dan akhirnya tahap penerimaan, meskipun untuk orang kehilangan indera penglihatan berarti kehilangan saluran informasi visual. Sebagai akibatnya penyandang kelainan penglihatan akan kekuarangan atau kehilangan informasi yang bersifat visual. Seseorang yang kehilangan atau mengalami kelainan penglihatan, sebagai kompensasi, harus berupaya untuk meningkatkan indera lain yang masih berfungsi. Seberapa jauh dampak kehilangan atau kelainan penglihatan terhadap kemampuan seseorang tergantung pada banyak faktor misalnya kapan (sebelum atau sesudah lahir, masa balita atau sesudah lima tahun) terjadinya kelainan, berat ringannya kelainan, jenis kelainan dan lain-lain. Seseorang yang kehilangan penglihatan sebelum lahir sering sampai usia lima tahun pengalaman visualnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Sedangkan yang kehilangan penglihatan setelah usia lima tahun atau lebih dewasa biasanya masih memiliki pengalaman visual yang lebih baik tetapi memiliki dampak yang lebih buruk terhadap penerimaan diri.
3. Dampak terhadap Bahasa
Pada umumnya para ahli yakin bahwa kehilangan penglihatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, dan secara umum mereka berkesimpulan bahwa tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak tunanetra. Mereka mengacu pada banyak studi yang menunjukkan bahwa siswa-siswa tunanetra tidak berbeda dari siswa-siswa yang awas dalam hasil tes intelegensi verbal.
Mereka juga mengemukakan bahwa berbagai studi yang membandingkan anak-anak tunanetra dan awas tidak menemukan perbedaan dalam aspekaspek utama perkembangan bahasa. Karena persepsi auditif lebih berperan daripada persepsi visual sebagai media belajar bahasa, maka tidaklah mengherankan bila berbagai studi telah menemukan bahwa anak tunanetra relatif tidak terhambat dalam fungsi bahasanya. Banyak anak tunanetra bahkan lebih termotivasi daripada anak awas untuk menggunakan bahasa karena bahasa merupakan saluran utama komunikasinya dengan orang lain.
Secara konseptual sama bagi anak tunanetra maupun anak awas, karena makna kakat-kata dipelajarinya melalui konteksnya dan penggunaannya di dalam bahasa. Sebagaimana halnya dengan semua anak, anak tunanetra belajar kata-kata yang didengarnya meskipun kata-kata itu tidak terkait dengan pengalaman nyata dan tak ada makna baginya.
Kalaupun anak tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya, hal itu bukan semata-mata akibat langsung dari ketunanetraannya melainkan terkait dengan cara orang lain memperlakukannya. Ketunanetraan tidak menghambat pemrosesan informasi ataupun pemahaman kaidah-kaidah bahasa.
C. Klasifikasi Anak Tunanetra
Derajat tunanetra berdasarkan distribusinya berada dalam rentangan yang berjenjang, dari yang ringan samapai ke berat. Berat ringannya jenjang ketunanetraan didasarkan kemampuan untuk melihat bayangan benda. Jenjang kelainan ditinjau dari ketajaman untuk melihat bayangan benda dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut.
1. Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang mempunyai kemungkinan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan dan alat optik tertentu.
2. Anak yang mengalami kelainan penglihatan, meskipun dikoreksi dengan pengobatan atau dengan alat optik tertentu masih mengalami kesulitan mengikuti kelas reguler sehingga diperlukan kompetensi pengajaran untuk mengganti kekurangannya.
3. Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik apapun, karena anak tidak mampu lagi memanfaatkan indra penglihatannya. Ia hanya dapat dididik melalui saluran lain selain mata.
Cruickshank(1980) menelaah jenjang ketunanetraan berdasarkan pengaruh gradasi kelainan penglihatan terhadap aktivitas ingatannya, dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut.
1. Anak tunanetra total bawaannya diderita sebelum usia 5 tahun.
2. Anak tunanetra total yang diderita setelah usia 5 tahun.
3. Anak tunanetra sebagian karean faktor bawaan.
D. Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya disebabkan oleh faktor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran bisa dikatakan terganggu jika sinyal suara gagal mencapai otak. Biasanya gangguan pendengaran berkembang secara bertahap, tapi hilangnya pendengaran bisa muncul tiba-tiba. Suara-suara yang memiliki tingkat kebisingan hingga 79 desibel masih bisa dikategorikan aman bagi telinga manusia.
Pada tahun 2012, WHO memperkirakan terdapat sekitar 360 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan pendengaran. Kawasan Asia Tenggara merupakan daerah yang tinggi jumlah kasus gangguan pendengaran dan ketulian, sehingga membuat WHO mencanangkan program Sound Hearing 2030. Hal ini bertujuan agar setiap penduduk memiliki kesehatan telinga dan pendengaran yang optimal pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, Komnas PGPKT atau Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian telah dibentuk pada tahun 2007 untuk merespon program WHO tersebut, dengan target penderita gangguan pendengaran akan tersisa 10% pada tahun 2030.
E. Gejala Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran dapat terjadi tiba-tiba, tetapi seringkali terjadi bertahap dan tidak disadari pada awalnya. Beberapa tanda dan gejala awal gangguan pendengaran adalah:
1. Meminta orang lain untuk mengulang perkataannya.
2. Selalu kelelahan atau stres karena harus berkonsentrasi saat mendengarkan.
3. Menarik diri dari pembicaraan.
4. Kesulitan mendengar dering telepon atau bel pintu.
5. Menghindari beberapa situasi sosial.
6. Kesulitan mendengarkan perkataan orang lain secara jelas, khususnya ketika berdiskusi dengan banyak orang atau dalam keramaian.
7. Kesulitan mendengarkan huruf-huruf konsonan, misalnya “S”, “F”, dan “T”.
8. Mendengarkan musik atau menonton televisi dengan volume suara lebih keras dari orang lain.
9. Kesulitan menentukan arah sumber suara.
F. Penyebab Gangguan Pendengaran
Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gangguan pendengaran, di antaranya adalah:
1. Faktor usia. Kebanyakan orang akan mulai terganggu pendengarannya akibat bertambahnya usia. Gangguan pendengaran akibat usia dikenal dengan nama presbikusis.
2. Suara yang keras. Mendengar suara yang keras, baik mendengar suara yang sangat keras dan tiba-tiba, seperti suara ledakan, atau mendengar suara keras (tidak sekeras ledakan), seperti suara pesawat terbang, yang terjadi menahun, bisa membuat gangguan pendengaran.
3. Infeksi atau kotoran. Kondisi ini dapat menyumbat rongga telinga.
4. Trauma, terutama retaknya tulang telinga atau pecahnya gendang telinga.
5. Obat-obatan. Beberapa obat tercatat dapat menimbulkan gangguan baik sementara atau permanen, di antaranya aspirin, antibiotik streptomycin, dan obat-obat kemoterapi, misalnya cisplatin dan cyclophosphamide.Penyakit. Penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes dapat mengganggu suplai darah ke telinga.
Jika dibedakan dari bagian telinga yang terganggu, ada dua jenis gangguan pendengaran, yaitu:
1. Gangguan pendengaran (tuli) sensorineural. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan sel rambut sensitif yang ada di telinga bagian dalam atau rusaknya saraf pendengaran. Beberapa pemicu gangguan pendengaran sensorineural adalah faktor keturunan, cedera kepala, serangan stroke, penuaan, obat-obatan, mendengar suara keras.
2. Gangguan pendengaran konduktif, terjadi saat gelombang suara tidak bisa masuk ke telinga bagian dalam. Gangguan pendengaran konduktif (tuli konduktif) bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti gendang telinga pecah atau berlubang, pembengkakan dinding atau disfungsi pada saluran atau tuba eustachius (saluran yang menghubungkan rongga telinga dengan rongga hidung), kotoran telinga atau tumor jinak yang menyumbat, infeksi, dan masuknya benda asing ke dalam telinga.
G. Pengobatan Gangguan Pendengaran
Cara pengobatan gangguan pendengaran tergantung dari penyebab serta tingkat keparahannya. Biasanya penderita gangguan pendengaran ditangani dengan:
1. Membersihkan kotoran yang menyumbat telinga.
2. Pembedahan. Langkah ini mungkin akan dilakukan jika penderita mengalami cedera telinga atau infeksi kambuhan.
3. Alat bantu dengar. Alat ini dapat membuat suara yang didengar oleh penderita menjadi lebih kuat dan mudah didengar.
4. Implan koklea, yaitu alat bantu dengar yang ditanam di bawah kulit di belakang telinga penderita.
Mempelajari bahasa isyarat dan membaca bibir. Jika penderita mengalami gangguan pendengaran berat atau mengalami ketulian sejak lahir dapat mengganggu komunikasi dengan orang lain. Dianjurkan untuk memahami bahasa isyarat dan membaca bibir untuk mempermudah komunikasi dengan orang lain.
GANGGUAN BELAJAR PADA ANAK
(DISGRAFIA,DISKALKULIA, DOWN SYNDROM)
A.Pengertian Gangguan Belajar
Aktivitas belajar bagi setia individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar Kadang-kadang tidak lancar. Dalam semangat terkadang semangatnya tinggi tetapi kadang juga sulit mengendalikan konsentrasi Setiap individu memiliki perbedaan. Perbedaan individual inilah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik.
Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami gangguan belajar. Macam-macam gangguan belajar ini dapat dikelompokan menjadi 4 macam dilihat dari kesulitan belajar ada yang berat ada yang sedang. Dilihat dari sifat kesulitannya ada yang sifatnya permanen dan ada yang bersifat sementara.
B.Faktor-faktor Penyebab Gangguan Belajar
Ada beberapa faktor penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riser (Harwell,2001). Yaitu:
1. Faktor keturunan atau bawaan atau bawaan
2. Gangguan semasa kehamilan saat melahirkan atau prematur
3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi, asap rokk.k, menggunakan obat-obatan, meminum alkohol selama masa kehamilan
4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam
5. Infeksi telinga yang berulang pada masa bayi atau balita, anak dengan gangguan belajar biasanya mempunyai sistem imun gang lemah
6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri atau raksa, dan neutrotoksin lainnya
Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran kedepannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak. Pada masa awal kelahiran sampai usia 3 tahun.
Sementara kirk dan Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab gangguan belajar pada anak sebagai berikut:
a. Faktor disfungsi otak
Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930an yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual.
b. Faktor genetik
Hallgren melakukan penelitian diswedia dan menemukan bahwa faktor herediter menentukan ke tidak mampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang diagnosa disleksia,
c. Faktor lingkungan
Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan nutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak.
d. Faktor biokimia
Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Peneliti yang yang dilakukan oleh Adelman dan comfers (1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas.
C. Karakteristik Gangguan Belajar
Menurut vallet(2000) terdapat 7 karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan hambatan belajar bukan kesulitan belajar khusus.
1. Sejarah kegagalan akademik berulang kali
Pola kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang tampaknya memantapkan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha
2. Hambatan fisik/tubuh/lingkungan berinteraksi dengan kesulitan belajar
Adanya kelainan fisik, misalnya penglihatan yang kurang jelas atau pendengaran terganggu berkembang menjadi kesulitan belajar yang jauh diluar jangkauan kesulitan fisik awal
3. Kelainan motivasional
Kegagalan berulang, penolakan guru dan teman-taman sebaya, tidak adanya reinforceiment. Semia ini ataupun sendiri-sendiri cendeerung merendahkan mutu tindakan, mengurangi minat untuk belajar, dan umumnya memindahkan motivasi ke kegiatan lain.
4. Kecemasan yang samar-samar
Kegagalan yang berulang kali yang mengembangkan haraoan akan gagal dalam bidang akademik dapat menular ke bidang-bidang pengalaman lain. Adanya antisipasi terhadap kegagalan yang segera datang yang tidak pasti dalam hal apa, menimbulkan kegelisahan, ke tidak nyamanan
5. Perilaku berubah ubah/tidak konsisten
Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konsisten, tidak jarang perbedaan angkanya mencolok dibandingkan dengan anak lain disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran.
6. Perilaku yang keliru karena data tidak lengkap
Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap
7. Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai
Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar . Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri tetapi pada ketidak cocokkan setara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak.
D. Tipe Ganvguan Belajar
1. Gangguan matematika(Diskalkulia)
Menurut Jacinta F.Rini ,diskalukulia dikenal juga dengan istilah “math difflcultry” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulaasi secara matematis. Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses berhitung dasar. Ciri-ciri diskalkulia sebagai berikut
a. Sulit melakukan hitungan matematis
b. Sulit melakukan proses-proses matematis
c. Terkadang mengalami disorientasi
d. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka
e. Mengalami kesulitan dalam olahraga karena bingung untuk mengikuti aturan main..
Anak yang mengalami gangguan berhitung memiliki tingkat berhitung lebih rendah dari pada tingkat yang seharusnya dicapai berdasarkan umurnya diagnosa Diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidanya. Selai penanganan oleh para ahli orang tua pun ikut berperan dan disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan berhitung tersebut
1. Menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah atau urutan dari proses keseluruhan
2. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekedar abstrak
3. Sering-sering mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, menyanyikan lagu angka
4. Pujilah setiap keberhasilam
5. Harus ada kerjasama antar guru dan orang tua
2. Gangguan menulis ( Diagrafia)
Gangguan ini mengacu pada anak dengan keterbatasan kemampuannya menulis. Keterbatasannya dapat muncul dalam bentuk kesalahan mengeja tata bahasa, tanda bacaa atau kesalahan dalam membentuk kalimat dan paragraf
Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Sebagai langkah awal dalam menghadapinya orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Ada beberapa ciri anak dengan gangguan in diantaranya:
a. Terdapat ketidak konsistenan bentuk huruf dalam tulisannya
b. Saat menulis penggunaan huruf besar dan kecil masih tercampur
c. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proposional
d. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan pengetahuan atau pemahamannya lewat tulisan
e. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan benar
f. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis
g. Cara menulis tidak konsisten tidak mengikuti alur
h. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yg sudah ada
3. Gangguan membaca (disleksia)
Disleksia merupakan kesulitan dalam membaca, tidak hanya itu anak disleksia juga mengalami kesulitan dalam mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa lainya. Dam didefinisikan sebagai suatu kondisi pemrosesan input atau informasi yg berbeda dari anak normal yang sering kali di tandai dengan kesulitan dalam membaca yang dapat mempengaruhi cara kognitif seperti daya ingat, kecepatan dalam pemrosesan ingatan, dan pengendalian gerak.
Macam-macam kesulitan yang dialami adalah
a. Kesulitan dalam berbicara dan membaca
b. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
c. Kesulitan membuat pekerjaan tertulis
d. Huruf tertukar tukar
e. Membaca lambat dan terputus putus dan tidak tepat
f. Menghilangkan atau salah baca kata penghubung
g. Tertukar tukar kata
h. Tulisan tangan yang buruk
i. Kesulitan mengingat nama
1. Down syndrome
Salah satu ABK yang mana merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abhnormalitas perkembangan kromosom. Anak cacat mental mengalami kelainan seperti lambat belajar, kemampuan mengatasi masalah, kurang dapat mengadakan hubungan sebab akibat sehingga penampilan sangat berbeda dengan anak lainnya. Anak cacat mental di tandai dengan lemahnya kontrol motorik Kurangnya kemampuan untuk mengadakan koordinasi namun masih bisa dilatih untuk mencapai kemampuan normal.
ANAK DENGAN KECERDASAN BERBAKAT
(GIFTED CHILDREN)
A. Pengertian Anak Dengan Kecerdasan Berbakat.
Pengertian anak menurut UU RI No 4 tahun 1979, tentang kesejahteraan anak, anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum pernah menikah.[1]Anak adalah sebagai keturunan kedua setelah ayah dan ibunya.[2]
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan terdapat dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut menjelaskan bahwa, anak adalah siapa saja yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih didalam kandungan, yang berarti segala kepentingan akan pengupayaan perlindungan terhadap anak sudah dimulai sejak anak tersebut berada didalam kandungan hingga berusia 18 tahun.
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun).
Inteligensi merupakan sesuatu yang fungsional sehingga tingkat perkembangan individu dapat diamati dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu. Tokoh pengukuran intelegensi Alferd Binet mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang terdiri dari tiga komponen, yakni :[3]
1. Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan,
2. Kemampuan untuk mengubah arah pikiran atau tindakan, dan
3. Kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan diri sendiri atau autocritism.
Munandar (1982) mengemukakan bahwa keberbakatan di Indonesia disepakati pada seminar pengembangan pendidikan luar biasa di Jakarta pada tanggal 15-17 september 1980 menyatakan bahwa yang dimaksud anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jagkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun terhadap diri sendiri.
Krik & Gallagher (dalam, Abdurrachman 1995) pada awalnya, keberbakatan memiliki pengertian yang berbeda-beda untuk tiap latar budaya. Dalam kebudayaan Yunani kuno yang dimaksud dengan anak berbakat adalah anak yang memiliki kecakapan luar biasa dalam berpidato, sedangkan di Roma ialah insinyur atau prajurit. Pengertian berbakat di Amerika Serikat pada mulanya di kaitkan dengan skor tes intelegensi Standford Binet yang dikembangkan oleh Terman setelah perang dunia II. Anak- anak yang memiliki skor IQ 125 atau lebih dinyatakan sebagai anak berbakat.Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki individu sejak lahir sebagai suatu potensi yang apabila dapat dikembangkan dengan baik atau dipupuk akan dapat melahirkan suatu yang luar biasa.[4]
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak berbakat itu disamping memiliki kemampuan intelektual tinggi, juga menunjukkan penonjolan kecakapan khusus yang bidangnya berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak lainnya. Anak ini disebut juga “gifted and talented” yang berarti berbakat intelektual. Di sini kita harus membedakan antara bakat sebagai potensi bawaan dan bakat yang telah terwujud dalam prestasi yang tinggi. Semua anak berbakat mempunyai potensi yang ungul, tetapi tidak semuanya telah berhasil mewujudkan potensi unggul tersebut secara optimal.
B. Karakteristik Anak Dengan Kecerdasan Berbakat
Ada banyak hal yang menjadi karakteristik khas anak-anak gifted, beberapa di antaranya adalah:
a) Kemampuan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ diatas 130.
b) Bakat istimewa dalam bidang tertentu, misalnya bidang bahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi istimewa dalam bidang-bidang tersebut.
c) Kreativitas yang tinggi dalam berpikir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru.
d) Kemampuan memimpin yang menonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok.
e) Prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.
Ormrod (Ormrod, 2008) mengidentifikasi beberapa kelebihan yang dimiliki anak gifted ini yaitu:
a) Perbendaharaan kata yang kaya, kemampuan berbahasa yang tinggi dan keterampilan membaca di atas rata-rata
b) Pengetahuan umum yang kaya mengenai dunia
c) Kemampuan belajar lebih cepat, mudah, mandiri disbanding teman-teman sebayanya
d) Proses kognitif dan strategi belajar yang lebih canggih dan efisien
e) Fleksibilitas yang lebih besar dalam hal gagasan dan pendekatan terhadap tugas
f) Standar performa yang tinggi (kadangkala terlalu perfeksionis)
g) Konsep diri yang positif, khususnya dalam kaitan dengan dengan usaha-usaha akademis
h) Perkembangan social dan penyesuaian emosi di atas rata-rata (meskipun beberapa anak berbakat yang ekstrim mungkin mengalami kesulitan karena mereka sangat berbeda dari teman-teman sebayanya.[5]
Karakteristik Anak Berbakat Akademik. Bila dikaitkan dengan definisi Renzulli, maka karakteristik Anak Berbakat, di antaranya sebagai berikut:
1. Menunjukkan kemampuan di atas rata-rata, terutama di bidang:
a. Kemampuan Umum
· Tingkat berpikir abstrak yang tinggi, penalaran verbal dan numerikal, hubungan spasial, ingatan, kelancaran kata.
· Adaptasi terhadap dan pembentukan situasi baru dalam lingkungan eksternal. Automatisasi pemrosesan informasi.
b. Kemampuan Khusus:
· Aplikasi berbagai kombinasi kemampuan umum di atas terhadap bidang- bidang yang lebih spesifik (Mis. Matematika, Sain, Seni, kepemimpinan)
· Kemampuan memperoleh dan membuat penggunaan yang tepat sejumlah pengetahuan formal, teknik, dan strategi di dalam menyelesaikan masalah-masalah tertentu.
· Kemampuan untuk memilih informasi yang relevan dan tak relevan dengan problem atau bidang studi tertentu.
2. Menunjukkan Komitmen yang terhadap tugas, yang diindikasikan dengan:
a. Kemampuan yang tinggi terhadap minat, antusiasme, dan keterlibatan dengan suatu problem atau bidang tertentu.
b. Ketekunan, daya tahan, ketetapan hati, kerja keras, dan pengabdian.
c. Kepercayaan diri, adanya keyakinan mampu melaksanakan pekerjaan yang penting, bebas dari perasaan inferior, keinginan yang kuat untuk berprestasi.
d. Kemampuan mengidentifikasi masalah-masalah di bidang-bidang tertentu.
e. Menetapkan standar yang tinggi terhadap pekerjaan; memelihara keterbukaan diri dan kritik eksternal; mengembangkan rasa estetis, kualitas dan keunggulan tentang pekerjaannya sendiri dan pekerjaan orang lain.
3. Menunjukkan kreativitas yang tinggi, yang diindikasikan dengan:
a. Kelancaran, keluwesan, dan keaslian dalam berpikir.
b. Keterbukaan terhadap pengalaman; Reseptif terhadap apa yang baru dan berbeda dalam pikiran, tindakan, dan produk dirinya sendiri dan orang lain.
c. Ingin tahu, spekulatif, dan berpetualangan, keinginan untuk menghadapi resiko baik dalam pikiran maupun tindakan.
d. Sensitif terhadap karakteristik ide dan sesuatu yang rinci dan estetik; keinginan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulasi elsternal, ide-ide dan perasaannya sendiri.
e. Sikap berani mengambil langkah atau keputusan menurut orang awam berisiko tinggi.
Beberapa layanan yang dapat diberikan pada anak berbakat adalah:
1. Program menyelenggarakan akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat.
2. Rumah sekolah (pendidikan non formal di luar sekolah)
3. Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan melibatkan individu.
4. Buat kelas khusus untuk anak berbakat.
C. Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)
Menurut Gardner kecerdasan dalam multiple intelegences meliputi kecerdasan verbal linguistik (cerdas kata), kecerdasan logis matematis (cerdas angka), kecerdasan musical (cerdas music-lagu), kecerdasan kinestetik (cerdas gerak), kecerdasan interpersonal (cerdas sosial), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), kecerdasan eksistensial (cerdas hakikat).[6]
Macam-macam kecerdasan majemuk (mulliple intelegences) adalah sebagai berikut:[7]
1. Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif. Pandai berbicara, gemar bercerita dan dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol. Potensi kecerdasan berbahasa yang dimiliki seorang anak hanya akan tinggal potensi bila tidak dilatih atau dikembangkan. Pola asuh sangat berpengaruh dalam hal ini. Anak yang tidak diberi kesempatan berbicara atau selalu dikritik saat mengemukakan pendapatnya akan kehilangan kemampuan dan ketrampilannya dalam mengungkapkan ide dan perasaannya.
2. Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika pada dasarnya melibatkan kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis, menemukan atau menciptakan rumusrumus atau pola matematika dan menyelidiki sesuatu secara alamiah. Ada juga yang secara awam menjabarkan kecerdasan ini sebagai kecerdasan ilmiah karena berkaitan dengan kegiatan berfikir atau berargumentasi secara induktif dan deduktif, berfikir dengan bilangan dan kesadaran terhadap pola-pola abstrak. Anak yang memiliki nilai tinggi untuk kategori kecerdasan ini suka melakukan eksperimen untuk membuktikan rasa penasarannya antara lain dengan pertanyaan atau aksi eksperimental. Anak yang seperti ini adalah anak yang selalu yakin bahwa semua pertanyaaan memiliki suatu penjelasan rasional yang masuk akal sehingga sering lebih merasa nyaman berhadapan dengan sesuatu yang dapat dikategorisasi, diukur, dianalisa dan ditilik kuantitasnya dalam berbagai cara. Kecerdasan logika matematika juga terkait erat dengan kecerdasan linguistik terutama dalam kaitannya dengan penjelasan alasan-alasan logika.
3. Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan visual-spasial memungkinkan orang membayangkan bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah karena ia mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasikan persepsi ini termasuk di dalamnya adalah kapasitas untuk memvisualisasi, menghadirkan visual dengan grafik atau ide spasial, dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam ruang secara tepat. Kecerdasan ini juga membuat individu mampu menghadirkan dunia ruang secara internal dalam fikirannya. Cara inilah yang digunakan pelaut atau pilot pesawat terbang ketika mengarungi ruang dunia. Begitu pula bagi seorang pemain catur yang menghadirkan sebuah dunia spasial yang terbatas.
4. Kecerdasan Gerak Tubuh (Kinestetik)
Anak dengan kecerdasan gerakan tubuh di atas rata-rata senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak, dan mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya.
5. Kecerdasan Musikal
Anak dengan kecerdasan musikal mudah mengenali dan mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentrans formasi kata-kata menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik. Merekapun pintar melantunkan bait lagu dengan baik dan benar, menggunakan kosa kata musikal, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam sebuah potongan komposisi musik.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk bisa memahami dan berkomunikasi dengan orang lain, serta mampu membentuk dan menjaga hubungan, dan mengetahui berbagai peran yang terdapat dalam suatu lingkungan sosial. Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi, adalah ciri-ciri kecerdasan interpersonal yang menonjol.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri, mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat dilakukan, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana reaksi diri terhadap suatu situasi dan memahami situasi seperti apa yang sebaiknya ia hindari serta mengarahkan dan mengintrospeksi diri.
8. Kecerdasan Naturalis
Anak dengan kecerdasan naturalis yang tinggi pada usia sangat dini telah memiliki daya tarik yang besar terhadap lingkungan alam sekitar termasuk pada binatang. Di usia yang lebih besar, anak-anak tersebut sangat berminat pada biologi, botani, ilmu hewan, geologi, meteorologi, palentologi atau astronomi.
9. Kecerdasan Spiritual (eksistensial)
[1]Suryanah. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996).h.1.
[2]Ubes Nur Islam. Mendidik Anak Dalam Kandungan. (Jakarta: Gema Insani Press,2003).h.9.
[3]Takdirotun Musfiroh. Pengembangan Kecerdasan Majemuk. (Penerbit Universitas Terbuka).h.1.3.
[4]Luhur Wicaksono. Jurnal Bimbingan Konseling Bagi Siswa Cerdas Dan Berbakat (Pontianak:FKIP Universitas Tanjungpura, 2016).h.31
[5]Muhammad Idrus. Layanan Pendidikan bagi Anak Gifted. Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UAD 2013, Vol. 2, No. 2.h. 118-119
[6]Tadkiroatun Musfiroh. Modul Hakikat Kecerdasan Majemuk (multiple intelegences).h.1.12.
[7]Kadek Suarca,dkk. Kecerdasan Majemuk pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 7, No. 2, September 2005.h.87-90
ANAK DENGAN GANGGUAN EMOSI
A. Pengertian Anak Dengan Gangguan Emosi
Mendefinisikan gangguan tunalaras atau gangguan emosi dan perilaku menurut Hallahandan Kauffman (2006) dapat dimulai dari tiga ciri khas kondisi emosi dan perilaku, yakni: (1)tingkah laku yang sangat ekstrim dan bukan hanya berbeda dengan tingkah laku anak lainnya,(2) suatu problem emosi dan perilaku yang kronis, yang tidak muncul secara langsung, (3)tingkah laku yang tidak diharapkan oleh lingkungan karena bertentangan dengan harapan sosial dan kultural.
Secara definitif anak dengan gangguan emosi dan perilaku adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (ditjenPLB.com, 2006).[1]
Gangguan emosional atau perilaku mengacu pada suatu kondisi dimana tanggapan emosional atau perilaku seseorang individu disekolah sangat berbeda dari norma-norma yang umumnya diterima, sesuai dengan usia, etnis atau budaya. Oktaviana & Wimbarti (2014) memperjelaskan bahwa gangguan tingkah laku adalah gangguan yang ditandai pola tingkah laku dissosial, agresif, atau menetang yang berulang dan menetap. Perilaku ini, dalam bentuk ekstremnya berupa pelanggaran berat dari norma sosial yang terdapat pada anak seusia it, dan karena itu pelanggarannya bersifat menetap dan lebih parah dari pada kenakalan anak atau sikap memberontak remaja pada lazimnya. Penilaian tentang adanya gangguan tingkah laku perlu mempertimbangkan tingkat perkembangan anak. Gangguan tingkah laku sering dikaitkan dengan intelegensi di bawah rata-rata.
Gangguan tingkah laku juga diketaui berhubungan dengan gangguan kecemasan, gangguan mood, gangguan penyesuaian dan gangguan terkait subs-tansi.Gangguan emosional diartikan sebagai suatu ketidakmampuan belajar yang tidak dijelaskan oleh faktor kesehatan, intelektual, dan sensorik. Gangguan emosional juga dapat diartikan sebagai suatu ketidakmampuan yang memiliki oleh seseorang dalam membangun dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan guru.
Anak dengan gangguan perilaku (Tunalaras) adalah anak yang berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat dan sangat berat, terjadi pada usia anak dan remaja, sebagai akibat tanggungnya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus. Di dalam dunia PBL dikenal dengan nama anak tunalaras (behavioral di sorder). Kelainan tingkah laku ditetapkan bila mengandung unsur:
a. Tingkah anak menyimpang dari standar yang diterima umum
b. Derajat peyimpangan tingkah laku dari standar umum sudah ekstrim
c. Lamanya waktu pola tingkah laku itu dilakukan
Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku) memiliki ciri :
1. Cenderung membangkang
2. Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah
3. Sering melakukan tindakan agreisf, merusak, menggangu
4. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum
5. Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos jarang masuk sekolah
Potensi penyebab gangguan emosi pada perilaku:
a. Faktor biologis
b. Faktor lingkungan atau keluarga
c. Faktor sekolah
d. Faktor masyarakat
B. Karakteristik Anak Dengan Gangguan Emosi
Heward & Orlansky (1988) dalam Sunardi (1996) mengatakan seseorang dikatakan mengalami gangguan perilaku apabila memiliki satu atau lebih dari lima karakteristik berikut dalam kurun waktu yang lama, yaitu:
1. Ketidakmampuan untuk belajar yang bukan disebabkan oleh faktor intelektualitas, alat indra maupun kesehatan.
2. Ketidakmampuan untuk membangun atau memelihara kepuasan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya dan pendidik.
3. Tipe perilaku yang tidak sesuai atau perasaan yang di bawah keadaan normal.
4. Mudah terbawa suasana hati (emosi labil), ketidakbahagiaan, atau depresi.
5. Kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala fisik atau ketakutan-ketakutan yang diasosiasikan dengan permasalahan-permasalahan pribadi atau sekolah.[2]
Simptom gangguan emosi dan perilaku biasanya dibagi menjadi dua macam, yaitu externalizing behavior dan internalizing behavior.
1. Externalizing behavior memiliki dampak langsung atau tidak langsung terhadap orang lain, contohnya perilaku agresif, membangkang, tidak patuh, berbohong, mencuri, dan kurangnya kendali diri.
2. Internalizing behavior mempengaruhi siswa dengan berbagai macam gangguan seperti kecemasan, depresi, menarik diri dari interaksi sosial, gangguan makan, dan kecenderungan untuk bunuh diri.
Kedua tipe tersebut memiliki pengaruh yang sama buruknya terhadap kegagalan dalam belajar di sekolah (Hallahan & Kauffman, 1988; Eggen & Kauchak, 1997).
Lebih lanjut, Hallahan & Kauffman (1988) menjelaskan tentang karakteristik anak dengan gangguan perilaku dan emosi, sebagai berikut:
a. Inteligensi dan Prestasi Belajar
Beberapa ahli, seperti dikutip oleh Hallahan dan Kauffman, 1988. menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan ini memiliki inteligensi di bawah normal (sekitar 90) dan beberapa di atas bright normal.
b. Karakteristik Sosial dan Emosi.
Agresif, acting-out behavior (externalizing) Conduct disorder (gangguan perilaku) merupakan permasalahan yang paling sering ditunjukkan oleh anak dengan gangguan emosi atau perilaku. Perilaku-perilaku tersebut seperti: memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, menolak untuk menuruti permintaan orang lain, menangis, merusak, vandalisme, memeras, yang apabila terjadi dengan frekuensi tinggi maka anak dapat dikatakan mengalami gangguan. Anak normal lain mungkin juga melakukan perilaku- perilaku tersebut tetapi tidak secara impulsif dan sesering anak denganconduct disorder.
c. Immature, withdrawlbehavior (internalizing)
Anak dengan gangguan ini, menunjukkan perilaku immature (tidak matang atau kekanak-kanakan) dan menarik diri. Mereka mengalami keterasingan sosial, hanya mempunyai beberapa orang teman, jarang bermain dengan anak seusianya, dan kurang memiliki ketrampilan sosial yang dibutuhkan untuk bersenang-senang. Beberapa diantara mereka mengasingkan diri untuk berkhayal atau melamun, merasakan ketakutan yang melampaui keadaan sebenarnya, mengeluhkanrasa sakit yang sedikit dan membiarkan “penyakit” mereka terlibat dalam aktivitas normal. Ada diantara mereka mengalami regresi yaitu kembali pada tahap-tahap awal perkembangan dan selalu meminta bantuan dan perhatian, dan beberapa diantara mereka menjaditertekan (depresi) tanpa alasan yang jelas (Hallahan dan Kauffman, 1988).
Dirjen PLB merumuskan ciri-ciri perilaku anak dengan gangguan emosi dan perilaku dengan tipe externalizing behavior setidak-tidaknya memiliki empat ciri, yaitu:
1. Bersikap membangkang.
2. Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.
3. Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
4. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.[3]
5. Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos jarang masuk sekolah
C. Peran Keluaga Orang Tua dan Guru Dalam Mengurangi Gangguan Emosional Pada Anak Berkebutuhan Khusus
Sekolah Luar Biasa bagian E sebagai lembaga pendidikan formal untuk anak tunalaras selama ini telah memiliki metode khusus dan metode kompensatoris dalam memberikan layananpendidikan untuk anak tunalaras. Berbagai metode yang telah ada dan berkembang dapat terusdipakai sebagai metode pembelajaran anak dengan tunalaras dengan penyesuaian dalam setinginklusi dan berlandaskan pada paradigma inklusif.
Hal pertama yang harus diperhatikan dalam pendidikan inklusi untuk anak tunalaras adalah resiko gangguan emosi dan perilaku yang mungkin menimpa warga sekolah. Peran gurusangat berarti dalam mengurangi semaksimal mungkin resiko tersebut. Dalam menghadapi anaktunalaras di kelas inklusi, guru harus memiliki keahlian dalam memahami, melakukan asesmen,dan mengelola gangguan emosi dan perilaku untuk mendukung pembelajaran. Sebelum gurukelas memiliki keahlian tersebut, kolaborasi dengan guru pendidikan luar biasa menjadikeharusan untuk mengurangi resiko, disamping dengan diadakannya pelatihan rutin untuk guruinklusi mengenai manajemen kelas inklusi. Council for Exceptional Children US (2001)mengidentifikasi keterampilan yang diperlukan guru dalam mengajar anak dengan gangguanemosi dan perilaku (Weiss dalam Hallahan dan Kauffmann, 2006), yakni :
1. Mengetahui strategi pencegahan dan intervensi bagi individu yang beresiko mengalamigangguan emosi dan perilaku.
2. Menggunakan variasi teknik yang tidak kaku dan keras untuk mengontrol tingkah laku targetdan menjaga atensi dalam pembelajaran.
3. Menjaga rutinitas pembelajaran dengan konsisten, dan terampil dalam problem solving danmengatasi konflik.
4. Merencanakan dan mengimplementasikan reinforcement secara individual dan modifikasilingkungan dengan level yang sesuai dengan tingkat perilaku.
5. Mengintegrasikan proses belajar mengajar (akademik), pendidikan afektif, dan manajemanperilaku baik secara individual maupun kelompok.
6. Melakukan asesmen atas tingkah laku sosial yang sesuai dan problematik pada siswa secaraindividual.
Pada proses belajar mengajar di kelas inklusi yang terdapat siswa tunalaras didalamnya, diperlukan pula strategi untuk keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah inklusi.Salah satu strategi adalah positive behavioral support (PBS) untuk anak dengan gangguanemosi dan perilaku. Strategi tersebut diterapkan secara individual terhadap anak dengangangguan emosi dan perilaku di ruangan kelas. Keberhasilan strategi PBS tersebut jugaditunjang oleh kerjasama antara guru inklusi dengan guru pendamping khusus untukmemperingan beban kerja, berbagi perspektif mengenai perilaku yang ditangani, dan improvisasisecara konsisten. Adapun tahap demi tahap PBS dapat dilakukan secara co-teaching adalahsebagai berikut :
1. Menentukan dan mendeskripsikan tingkah laku siswa di ruangan kelas. Guru inklusi dan gurupendamping khusus dapat berbagi perspektif mengenai tingkah laku yang teramati.
2. Melakukan asesmen atas gangguan emosi dan perilaku siswa. Kegiatannya meliputiobservasi, analisa, dan membuat hipotesis atas perilaku siswa.
3. Mengembangkan hipotesis : kenapa siswa mempertahankan perilaku tersebut.
4. Menetapkan target berupa perilaku pengganti. Para guru yang mengenal siswa dapat bekerjasama dalam mengidentifikasi perilaku pengganti, menganalisa, dan menjabarkan tahap demitahap keterampilan yang harus dikuasai ataupun yang harus dihilangkan siswa dalam meraihperilaku pengganti.
5. Guru dengan bekerja sama mengajar siswa mengenai tingkah laku target, memberipenguatan di kelas, dan memverifikasi pencapaian yang diraih siswa maupun guru.
6. Memodifikasi lingkungan yang mendukung pencapaian tingkah laku target, danmemungkinkan perkembangan perilaku ke arah lebih baik. Upaya modifikasi lingkungan inimerupakan kegiatan besar yang melibatkan warga kelas (guru kelas, guru pendampingkhusus dan siswa lainnya), tim guru lain, kepala sekolah, bagian administrasi sekolah, danjuga orang tua siswa. Seluruh pihak yang terlibat diharapkan menunjukkan dukungan denganberbagai pola sikap maupun tindakan yang mendukung anak tunalaras memperoleh perilaku positif.
Pendidikan inklusi merupakan agenda besar yang melibatkan banyak pihak yangberkaitan dengan diri anak. Dalam pelaksanaannya pendidikan inklusi adalah program yangmerespon perbedaan individu yang melibatkan keseluruhan tatanan dan proses yang tersediabagi setiap siswa, dan bukannya terpisah dari mereka (Florian, 2008).Pendidikan inklusi yang berhasil untuk anak tunalaras membutuhkan perubahan mulaidari tataran paradigmatis seperti ungkapan Farrell (2008) tersebut di atas, hingga pada tataranoperasional.
Paradigma inklusif yang dimiliki pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan inklusiakan menjadi pondasi yang kuat dan stabil pada tahap operasional pendidikan inklusi. Tanpaparadigma inklusif, pelaksanaan pendidikan inklusi mungkin saja akan berjalan artifisial dantimpang di sana-sini. Namun demikian, paradigma tanpa disertai dengan operasional yangmatang dan tertata juga hanya akan menjadi angan-angan dan rencana semata.
Pendidikan anak sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Bahkan orang tua adalah pendidik pertama bagi seorang anak. Sehingga orang tua memiliki perasaan yang sangat penting, terutama orang tua bagi anak berkebutuhan khusus peran orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus adalah :
a. Sebagai pendamping utama (as aids), yaitu sebagai pendamping utama yang dalam membantu tercapainya tujuan layanan penanganan dan pendidikan anak
b. Sebagai advokat (as advocats), yang mengerti, mengusahakan dan menjaga hak anak dalam kesempatan mendapat layanan pendidikan sesuai dengan karakteristik khususnya
c. Sebagai sumber (as resources), menjadi sumber data yang lengkap dan benar mengenai diri anak dalam usaha intervensi perilaku anak
d. Sebagai guru (as teacher), berperan menjadi pendidik bagi anak dalam kehidupan sehari-hari diluar jam sekolah
e. Sebagai diagnostisian (diagnosticions), penentu karakteristik dan jenis kebutuhan khusus dan berkemampuan melakukan treatmen, terutama diluar jam sekolah
Kebutuhan pembelajaran bagi anak tunalaras yang harus diperhatikan guru antara lain adalah:
· Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi setiap anak
· Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap anak
· Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak
· Perlu adanya perkmbangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh dari lingkungan
Angota keluarga dan guru harus peka dan untuk mendeteksi kesulitan emosional atau perilaku antara anak-anak dengan tanda-tanda berikut:
a. Agresif terhadap diri sendiri atau orang lain
b. Kecemasan atau fearfulness
c. Distractibility atau ketidakmampuan untuk membayar perhatian untuk waktu yang panjang dibandingkan dengan teman-temannya
d. Mengungkapkan pikiran untuk bunuh diri
e. Perasaan depresson dan ketidakbahagiaan
f. Sedikit atau tidak ada teman
g. Perilaku hiperaktif
h. Matang keterampilan sosial yang dinyatakan dalam interaksi sosial
i. Implusif
j. Masalah dalam hubungan keluarga
k. Masalah dengan hubungan guru-murid
l. Bunuh diri
m. Penarikan ke dalam diri
Beberapa gangguan perilaku atau emosional dapat dicegah dengan menghilangkan penyebab atau memperbaiki gejalanya. Sebagai contoh, mendidik wanita hamil untuk tidak minum untuk mencegah dampak perilaku sindrom alkohol janin. Didalam kelas, guru dapat menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku masalah serius. Sebagai sebuah masyarakat, strategi umum untuk mencegah gangguan emosi dan perilaku meliputi:
a. Memberikan terapi individu dan keluarga
b. Mengajarkan keluarga cara-cara baru berinteraksi
c. Mempromosikan dan memberikan pelatihan karakter
d. Pendidikan moral
e. Mempromosikan kesehatan bayi dan anak-anak dan
f. Memberikan intervensi medis
D. PENDIDIKAN INKLUSI MENGAKOMODASI KARAKTERISTIK ANAK TUNALARAS
Pendidikan inklusi merupakan model pendidikan yang memberi kesempatan bagi siswa yang berkebutuhan khusus untuk belajar bersama siswa-siswa lain seusianya yang tidak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi lahir atas dasar prinsip bahwa layanan sekolah seharusnya diperuntukkan untuk semua siswa tanpa menghiraukan perbedaan yang ada, baiksiswa dengan kondisi kebutuhan khusus, perbedaan sosial, emosional, cultural, maupun bahasa (Florian, 2008). Atas dasar pengertian dan dasar pendidikan inklusi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan inklusi merupakan pendidikan yang berusaha mengakomodasi segala jenis perbedaan dari peserta didik. Secara konseptual dan paradigmatis, Farrell (2008) mengidentifikasi karakter akomodatif pendidikan inklusi sebagai berikut :
1. Pendidikan inklusi mau merekrut semua ‘jenis’ siswa.
Pendidikan inklusi tidak berpihak pada homogenitas sekelompok siswa. Implikasinya adalah pendidikan inklusi tidak mengenal tes penyetaraan baik kemampuanakademik maupun non akademik bagi calon siswa, dan tidak pula mengenal istilah‘mengeluarkan’ siswa dari sekolah karena bermasalah.Sifat akomodatif pendidikan inklusi bagi anak dengan tunalaras adalah, bahwapendidikan inklusi menyatakan akan menerima sepenuhnya anak dengan kebutuhan khususyang anak tunalaras masuk ke dalam bagiannya. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataanbahwa pendidikan inklusi menerima anak yang beresiko tidak disukai bahkan mengalamipenolakan lingkungan (Farrell, 2008) sebagai sesuatu yang khas menimpa pada anakdengan tunalaras.
2. Pendidikan inklusi menghindari semua aspek negatif labeling
Salah satu dampak buruk dari labeling adalah munculnya inferioritas bagi pihakyang diberi label negatif. Perasaan inferioritas akan mengganggu setiap aspek kehidupanmereka, termasuk pendidikan. Secara kongkrit, pendidikan inklusi berusaha menghindarilabel negative dengan mengubah label yang ada di masa lalu menjadi lebih positif di masakini. Dalam term anak tunalaras, dahulu sebutannya adalah ‘maladjusted’ (gangguanpenyesuain diri), menjadi ‘emotional and behavioral difficulties (EBD)’ (problem emosi danperilaku), dan kini menjadi ‘behavioral, emotional, and social difficulties (BESD)’ (problemperilaku, emosi, dan sosial) (Farrell, 2008).
3. Pendidikan inklusi selalu melakukan checks dan balances
Proses pendidikan inklusi bukan hanya diatur oleh pihak formal pemerintah dansekolah penyelenggara. Checks dan balances pada pendidikan inklusi dijaga secara ketatdengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan kepentingan siswa, yakni orangtuasiswa, masyarakat (komite sekolah), serta pada ahli yang terkait dengan karakteristikkhusus (Farrell, 2008). Dalam konteks pendidikan anak tunalaras, checks dan balancessangat berarti. Peran sekolah sebagai penyedia layanan pendidikan akan terbantu dengankerjasama yang baik dari orangtua siswa sebagai guru sekaligus diagnostician gangguanemosi dan perilaku anak di rumah, komite sekolah yang juga dapat berperan dalamadvokasi atas berbagai resiko gangguan emosi dan perilaku yang ditimbulkan anak, dan ahlipsikiatri serta psikolog sebagai penentu dan pemberi treatmen klinis gangguan emosi danperilaku.
[1] Aini Mahabbati. Identifikasi Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku di Sekolah Dasar. (Yogyakarta:UNY, 2006). Jurnal Pendidikan Khusus Vol. 2. No. 2, h. 4.
[2] Festa Yumpi. Identifikasi Kebutuhan untuk Perancangan Intervensi Anak Gangguan Emosi dan Perilaku. (Semarang: Universitas Muhammadiyah Jember, 2017). H, 287.
[3] Aini Mahabbati. Identifikasi Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku di Sekolah Dasar. (Yogyakarta:UNY, 2006). Jurnal Pendidikan Khusus Vol. 2. No. 2, h. 4-6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar