PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Setiap orang tua, pasti menginginkan buah hati yang sehat dan normal. Namun ditiap-tiap kelahiran diseluruh dunia, pasti ada satu dari sekian bayi yang memiliki kecacatan baik secara fisik maupun psikis, dan mempunyai faktor-faktor sendiri yang melatarbelakangi. Anak tersebut kemudian lambat laun memerlukan perlakuan khusus dalam setiap penanganannya bahkan hingga ia dewasa. Oleh karenanya, mereka biasa disebut dengan anak berkebutuhan khusus.
Anak berkebutuhan khusus jika ditelaah maka dapat diartikan dengan anak yang "spesial" karena memiliki hal-hal yang tidak biasa ditemukan pada anak seusianya. Mereka cenderung berbeda dengan anak-anak pada umumnya karena memiliki keterlambatan dalam pertumbuhan atau perkembangannya.
Konsep
Dasar Anak Berkebutuhan Khusus
Anak-anak berkebutuhan khusus adalah
anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya,
sehingga berbeda dengan anak normal seusianya. Perbedaan yang ada dalam diri
anak berkebutuhan khusus dapat dilihat dari perbedaan interindividual, maupun
intraindividualnya. Anak-anak tersebut biasanya mengalami kesulitan dalam
berinteraksi dengan lingkungan, sehingga seringkali menjadi tantangan bagi guru maupun
orang tua. Maka untuk mengembangkan potensinya, dibutuhkan pemahaman yang
mendalam serta pengajaran khusus.
Faktor Penyebab Kelainan
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kelainan pada anak berkebutuhan khusus ada 5, yaitu:
1. Herediter
Kebanyakan anak berkebutuhan khusus merupakan
bawaan dari lahir. Dan yang mendasari hal tersebut, adalah faktor hereditas
atau genetik yang diturunkan dari orang tua.
2. Infeksi
Infeksi (baik secara langsung ataupun tidak
langsung) yang menyerang bayi sebelum / sesudah lahir juga dapat menyebabkan kelainan.
3. Keracunan
Keracunan yang dimaksud dapat secara langsung
pada anak, maupun lewat perantara ibu ketika mengandung.
4. Trauma
Merupakan cedera yang terjadi pada anak sehingga
menyebabkan perubahan struktur rangka, ataupun cedera yang terjadi ketika
proses persalinan.
5. Kekurangan Gizi
Kurangnya asupan gizi pada bayi dalam
kandungan maupun sesudah lahir, sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Sehingga jika asupan yang diberika tidak sesuai atau takarannya kurang, dapat
menyebabkan kelainan.
Dampak Terjadinya Kelainan
1. Dampak Fisiologis
Dampak ini berkaitan dengan fisik anak, baik
tampilan maupun koordinasinya. Anak seringkali akan kesulitan untuk mengontrol
koordinasi gerak, jika terdapat kelainan pada anggota tubuhnya.
2. Dampak Psikologis
Dampak psikologis merupakan dampak yang
berhubungan dengan keadaan mentalnya. Keadaan mental yang labil akibat
kelainan, akan mengganggu proses kejiwaannya.
3. Dampak Sosiologis
Dampak ini timbul karena hubungan anak dengan
lingkungan sekitarnya. Perbedaan yang ada pada anak berkebutuhan khusus
seringkali memunculkan minder dan mental yang labil, sehingga anak tersebut
kesulitan dalam berbaur atau bersosialisasi.
Konsep
Pendidikan Luar Biasa
Anak-anak berkebutuhan khusus tentunya akan membutuhkan tenaga khusus dalam dunia pendidikan. Menurut Hallahan dan Kauffman (1991), bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus meliputi berbgaia pilihan:
Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa)
Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB)
Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung)
Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber)
Pusat Diagnostik-Prescriptif
Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).
Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB)
Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)
Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)
KELAINAN ATAU
ABNORMAL
Ada beberapa pandangan yang muncul jika kita bicara mengenai apa
yang disebut normal atau tidak normal(bersifat nonnormatif) beberapa
diantaranya akan dibahas dibawah ini:
1.
Model Medis (Medical
Model)
Orang-orang yang memiliki pandangan seperti ini bila mendengar
istilah kelainan perilaku akan cenderung melihat atau memandang anak yang
mengalami kelainan sebagai anak yang jiwanya menderita "sakit" atau
berpikiran bahwa apa yang diderita atau dialami anak analog dengan sakit fisik.
Seperti para ahli medis maka para ahli yang menggunakan pendekatan ini melihat
kelainan pada anak dengan berusaha mencari apa penyebab dan bagaimana
penanganan (treatment) yang sesuai.
Para ahli yang menggunakan pendekatan ini mengasumsikan bahwa
kelainan psikologis ― seperti juga penyakit fisik ― hidup dan menetap di dalam
diri anak dan merupakan hasil dari proses-proses fisiologis atau intrapsikis.
Namun pendekatan ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari para ahli
karena para ahli beranggapan bahwa kelainan pada anak atau patologi yang
dimaksud lebih merupakan masalah yang muncul atau berkembang dalam kehidupan.
Bahkan beberapa masalah dikatakan patologis berdasarkan penilaian sosial, bukan
berdasarkan hasil objektif dari tes medis.
Dalam kenyataannya dengan menggunakan pendekatan medis ini, akan terdapat banyak kesulitan untuk menegakkan kriteria bagi individu-individu yang dikatakan abnormal. Sehingga diperlukan kesadaran dan kehati-hatian yang sangat serta kemampuan melihat masalah tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Sementara sekarang ini para ahli lebih menekankan terjadinya kelainan atau abnormalitas berdasarkan nilai-nilai individual dan nilai-nilai budaya.
2. Penyimpangan dari Rata-Rata (Abnormality as Deviation from The Average)
Istilah "abnormal" secara harfiah berarti "terpisah atau berbeda dari yang normal", model ini mencoba melihat bahwa perilaku atau perasaan yang berbeda dari rata-rata adalah sesuatu yang abnormal. Metode ini mendefinisikan kelainan atau abnormalitas dengan menggunakan model statistik sebagai rujukannya. Mereka mencoba melihat berapa besar penyimpangan suatu perilaku dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya. Misalnya, oleh American Association of Mental Deficiency (AAMD) seseorang dikatakan mengalami keterbelakangan mental jika ia memiliki tingkat inteligensi yang menyimpang sekitar 2 simpang baku (standar deviation) di bawah tingkat inteligensi rata-rata atau IQ berada di bawah 70 menurut skala Wechsler Intelligence Scale for Children - Revised (WISC-R).
Tentu
saja penggolongan seperti ini memerlukan pengamatan yang baik karena untuk
menentukan apakah seseorang mengalami kelainan atau tidak bukan hal yang mudah.
Dengan kata lain, penentuan tidak dilakukan pada saat pertama kali bertemu.
Pandangan ini mengatakan bahwa seseorang dikatakan abnormal bila ia berbeda
dari rata-rata, ini berarti berlaku juga bagi orang-orang yang berbeda dari
rata-rata ke arah sebaliknya. Misalnya, orangorang dengan inteligensi superior
(juga menyimpang 2 simpang baku dari tingkat inteligensi rata-rata, tetapi ke
arah berlawanan dari keterbelakangan mental yaitu ke arah atas) yang juga
menyimpang dari rata-rata, apakah kita akan menyebut mereka juga sebagai
abnormal? Kebanyakan orang akan menolak jika kita menggolongkan orang-orang dengan
fungsi inteligensi superior ini sebagai orang-orang dengan ciri-ciri
psikopatologi. Kesulitan lain yang muncul bila menggunakan pendekatan ini
adalah tidak ada petunjuk umum yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan
seberapa besar perbedaan yang harus dimiliki oleh seseorang dari rata-rata,
agar dapat dikatakan abnormal? dan dalam kondisi yang bagaimana perbedaan
tersebut muncul?
3. Penyimpangan
dari yang Ideal (Abnormality as Deviation from the Ideal)
Salah
satu pilihan dari model statistik untuk menentukan abnormalitas adalah penyimpangan
dari yang ideal. Pendekatan ini tidak melihat abnormalitas sebagai seberapa
menyimpang dari rata-rata atau seberapa sehat seseorang, namun mencoba
menentukan kepribadian ideal yang sehat dan menentukan bahwa penyimpangan dari
hal-hal ideal yang telah ditentukan inilah yang disebut sebagai abnormal.
Masalah utama dari konsep alternative ini adalah bagaimana merumuskan
kepribadian ideal yang sehat. Beberapa ahli, seperti Freud dan Maslow mencoba
membuat pedoman berdasarkan teori mereka yang diyakini dapat menggambarkan
kepribadian ideal dari individu. Tetapi siapa yang memiliki wewenang untuk
mengatakan bahwa teori mereka benar? Apa yang menjadi gambaran dari penyesuaian
yang ideal? Apakah anda berkenan untuk menganggap seseorang yang hanya sebentar
"menyimpang" dari kriteria dikatakan sebagai abnormal? Akan terlalu
banyak muncul pertanyaan berkaitan dengan banyak hal.
Selain
itu hal lain yang menjadi perhatian utama adalah, kebanyakan teori tumbuh dan
berkembang dari "dunia barat". Sementara pada dunia timur, hal-hal
yang dianggap penting berdasarkan teori tersebut, belum tentu sama. Meskipun
tidak ada seorang pun yang dapat menerima salah satu definisi tersebut di atas
sebagai sesuatu yang ideal, namun dalam kenyataannya dalam berbagai penelitian
secara implisit ditemukan adanya kriteria "ideal" yang berkembang
dalam suatu budaya mengenai apa yang disebut sebagai abnormal.
PERKEMBANGAN ANAK YANG BERKELAINAN ATAU ABNORMAL
Penggunaan
pendekatan perkembangan untuk melihat kelainan (nonnormatif) yang diderita oleh
anak sebenarnya berlandaskan empat tema dasar atau prinsip, yaitu pertama,
kelainan muncul atau terjadi hanya pada individu yang mengalami perkembangan.
Tujuan atau tugas perkembangan di sini adalah menerangkan asal usul gejala dan
penyebab dari kelainan perilaku yang muncul. Frekuensi dan pola gejala dari
kelainan perilaku akan bervariasi tergantung dari penyebab yang muncul sesuai
perkembangan individu. Misalnya, stres ada pada setiap tahap usia perkembangan
individu. Penyebab munculnya stres pada anak usia sekolah biasanya ditandai
dengan perilaku menarik diri dari lingkungan dan murung, bahkan sering
tertutupi oleh gejala lain seperti hiperaktif, mengompol, kesulitan belajar dan
bahkan kemungkinan hingga perilaku antisosial. Sementara pada remaja, banyak
ditandai dengan keinginan untuk bunuh diri ― bahkan di media masa tanggal 4 Maret
2005 diberitakan seorang anak SMP dari suatu kota kecil di Jawa Tengah, telah
dua kali mencoba bunuh diri dengan cara hendak melompat dari tempat tinggi
karena selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya (sesuatu yang hampir tidak
pernah muncul pada anak tahap usia sekolah atau prasekolah) ―,rasa tidak
berguna, rendahnya kepercayaan diri, dan rasa bersalah. Kecenderungan untuk
bunuh diri yang muncul pada masa remaja ini kemungkinan berkaitan dengan
keadaan masa pubertas, perkembangan kognitif yang lebih maju, berbagai macam
stres yang muncul dan penyesuaian diri yang harus dilakukan dalam berbagai
ragam situasi selama tahap remaja.
Prinsip
atau tema dasar kedua, kelainan perkembangan atau psikopatologi harus
dipandang dalam kaitannya dengan perkembangan yang normal, tugas-tugas
perkembangan utama dan perubahan-perubahan yang muncul sepanjang rentang
kehidupan. Psikopatologi sering kali didefinisikan sebagai penyimpangan dari
perilaku yang normal karena pada hakikatnya ada pencapaian normal tertentu yang
harus dapat dipenuhi oleh setiap individu pada setiap tahap usia tertentu. Isue
kritis yang muncul adalah bagaimana membedakan antara "gangguan"
perkembangan yang masih dapat ditolerir atau masuk dalam kategori normal dengan
yang sudah memerlukan penanganan serius. Dalam kehidupan sehari-hari tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap individu memiliki masalah pada waktu tertentu
dalam periode kehidupan mereka, namun tingkatannya masih dapat dikatakan
normal. Misalnya tempertantrum yaitu perilaku yang dikatakan normal bila muncul
pada anak usia 2 tahun, namun bila remaja masih melakukan hal tersebut bukan
lagi masuk dalam kategori normal.
Tema
dasar atau prinsip ketiga, tanda-tanda awal dari perilaku berkelainan
harus dipelajari secara serius. Meskipun definisi kelainan perkembangan
(psikopatologi) tidak terlalu jelas dan belum terlalu stabil pada anak-anak
usia muda dibandingkan orang dewasa, namun ada perilaku yang merupakan
tanda-tanda awal bagi terjadinya kelainan perilaku dan ternyata berhubungan
dengan masalah serius yang muncul kemudian. Misalnya anak yang tidak patuh dan
ditolak oleh teman-temannya saat berada di TK, sebenarnya perilaku anak ini
merupakan peringatan awal dari terbentuknya perilaku lain yang lebih berat,
yaitu perilaku antisosial. Anakanak seperti ini di rumah biasanya mereka keras
kepala, memaksakan kehendak dan bersitegang terus dengan orang tua, mereka juga
cenderung tidak sensitif, agresif dan tentu saja tidak disukai oleh teman
sebayanya. Penolakan dari teman sebaya mendorong anak untuk berteman dengan kelompok
yang juga ditolak atau menyimpang dan kemudian mendorong mereka untuk bergaul
dengan anak-anak yang tergolong antisosial. Sehingga dalam usia remaja
kemungkinan untuk terlibat dengan obat-obatan, pencurian dan keterlibatan
dengan minuman keras menjadi semakin terbuka.
Terakhir
atau yang keempat, ada beragam patokan atau karakteristik perkembangan
baik yang normal maupun berkelainan. Faktor yang beragam tersebut, sebagian
bersifat genetis dan sebagian lagi karena lingkungan atau pengalaman, bahkan
kedua hal tersebut saling berinteraksi dan kemungkinan membuat anak mengalami
perubahan dari kondisi normal menjadi mengalami kelainan atau sebaliknya dari
kondisi kelainan menjadi normal.
CIRI-CIRI
ANAK DENGAN PERKEMBANGAN NONNORMATIF
Bukan
perkara mudah untuk menetukan apakah perkembangan seorang anak berada pada
kondisi yang normatif atau nonnormatif. Nonnormatif adalah suatu keadaan yang
menimbulkan dampak amat besaar atau luas pada kehidupan seorang individu atau
anak. Secara tradisional menurut Mash dan Wolf dapat dilihat dari adanya pola perilaku,
kognitif, emosional atau sintom fisik yang diperlihatkan oleh anak. beberapa
pola tersebut behubungan dengan satu atau lebih dari tiga ciri yang menonjol di
bawah ini:
1. Anak
menunjukkan adanya gejala kesedihan (distress), misalnya ketakutan atau
kesedihan.
2. Perilaku
anak menunjukkan adanya tingkat disabilitas tertentu, Misalnya kerusakan yang
secara mendasar mengakibatkan gangguan atau membatasi aktifitas dari sat atau
beberapa area fungsional penting, termasuk emosional, fisik, kognitif dan
perilaku.
3. Tingkat
distress atau disabilitas tersebut menimbulkan risiko penderitaan atau ancaman
lebih jauh misalnya kematian, sakit, disabilitas atau kehilangan kebebasan yang
penting.
Hal
yang patut dicermati dari ketiga ciri yang menonjol dari kemungkinan munculnya
perilaku nonnormatif berdasarkan keterangan di atas adalah ketiga ciri tersebut
hanya menggambarkan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh seseorang
dalam situasi tertentu. Walaupun perkembangan nonnormatif selalu dikaitkan
dengan pola-pola tertentu yang bersifat individual, namun karena ketergantungan
anak yang amat besar dengan orang lain yang berada disekitarnya, maka dalam
memahami masalah yang dihadapi anak juga akan lebih baik bila kita melihatnya
dalam kaitan hubungan tersebut tidak semata-mata hanya melihatnya sebagai
masalah anak saja.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NON NORMATIF
Kelainan yang
muncul pada seorang anak berkaitan erat dengan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan mereka. Faktor
– faktor tersebut di antaranya adalah:
1.
Cetak Biru Biologis ( Biological Birthright )
Dalam perjalanannya dapat terjadi
kelainan genetis yang lazim dikenal sebagai abnormalitas gen. Abnormalitas ini
dapat terjadi ketika kromoson tidak memiliki pasangan ( tunggal ) atau
sebagaian kromoson hilang,mengalami duplikasi ( kelipatan ) atau salah ( keluar
) dari tempatnya. Abnormalitas yang paling mudah dikenali adalah sindroma down
atau down”s syndrom, yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromoson di kromosom
21.
2.
Genetik Dan Lingkungan
Dari semua area dimana pengaruh
genetik dan lingkungan saling berinteraksi mempengaruhi seorang anak, maka ada
dua aspek yang mengundang perbedaan pendapat paling kontroversial yaitu
berkaitan dengan perbedaan jender yaitu perbedaan antara laki-laki dengan
perempuan; dan yang kedua adalah berkaitan dengan peranan, sifat-sifat serta
asal-usul intelegensi.
3.
Perbedaan Gender
Sering kita dengar bahwa laki-laki
lebih rapuh dibandingkan perempuan, hal ini berlanjut saat mereka dapat
bertahan hidup setelah dilahirkan. Laki-laki lebih terbuka dibandingkan
perempuan terhadap kemungkinan bermacam-macam kelainan yang sangat luas
berfariasi termasuk cerebral palsy, infeksi, keterbelakangan mental dan
beberapa kesulitan belajar. Jhon Money (dalam Lamsdown dan Walker, 1996) mengatakan
bahwa hormon mengarahkan anak atau individu untuk berperilaku sesuai dengan
jenis kelamin, namun pengalaman anak akan mempengaruhi apakah pengaruh hormonal
tersebut akan hilang atau diperkuat.
4.
Intelegensi
Intelegensi
adalah kualitas mental yang didasari keberhasilan seseorang di sekolah.
Beberapa psikolog mengemukakan bahwa sebenarnya ada dua faktor utama yaitu
pertama adalah faktor umum (general
factors), yang mendasari kemampuan intelektual, dan kedua adalah serangkaian
kemampuan khusus (spesific abilities). Keberadaan kemampuan umum ini
menjelaskan mengapa ada kecenderungan bila seseorang memiliki kemampuan yang
baik dalam satu bidang, juga dia baik pada beberapa bidang lain. Dilain pihak
gagasan mengenai kemapuan khusus dapat menerangkan mengapa, contohnya, mengapa
ada orang-orang yang amat mahir dalam mengadakan negosiasi, namun gagal dalam
matematika.
5.
Kontrol Sosial
Konteks dimana seorang anak atau
individu tinggal memegang peranan amat penting karena perubahan-perubahan yang
terjadi memberikan pengaruh pada setiap tahap usia aspek dan perkembangan.
Bagaimana konteks sosial tersebut berpengaruh pada anak akan dibahas di bawah
ini:
1) Keluarga
Keluarga adalah konteks pertama yang memperkenalkan anak kepada
dunia secara fisik melalui kegiatan bermain dan menjelajah objek-objek yang
berada di sekitarnya. Kelekatan dengan orangtua dan saudara kandung biasanya
berjalan sepanjang kehidupan dan menjadi model saat membina hubungan dalam
dunia yng lebih luas, seperti tetangga, sekolah, dan masyarakat di sekitar
tempat kita tinggal.
Dalam keluarga, anak belajar menggunakan bahasa,
keterampilan-keterampilan tertentu, nilai-nilai sosial dan moral yang
berkembang dalam kebudayaan dimana mereka tinggal. Parke dan Burke
(1998:dalam Berk, 2005), kehangatan, kebahagiaan atau kepuasan dalam ikatan
keluarga meramalkan kesejahteraan psikologis sepanjang tentang perkembangan
individu. Sebaliknya, isolasi atau keterasingan dari ikatan keluarga seringkali
dihubungkan dengan adanya masalah dalam perkembangan seseorang. Penelitian-penelitian
mutakhir memandang keluarga sebagai suatu jejaring dari hubungan yang saling
memiliki ketergantungan satu sama lain (interdependent). Bronfenbrenner
menyebutnya sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh bidirectional
(bidirectional influences), artinya perilaku atau respon dari setiap anggota
keluarga dipengaruhi dan saling mempengaruhi anggota keluarga yang lainnya.
Pengaruh-pengaruh tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung.
a. Pengaruh
yang bersifat langsung (direct influences)
Perilaku salah seorang anggota
keluarga memperkuat bentuk reaksi yang terjalin dengan anggota keluarga
lainnya, dan pada gilirannya bentuk reaksi tersebut dapat meningkatkan atau
menurunkan kesejahteraan anak. Suatu perilaku terbentuk sebagai reaksi yang diterima
dari lingkungan, sementara bagaimana lingkungan bereaksi juga dipengaruhi oleh
perilaku yang ditampilkan.
b. Pengaruh
yang bersifat tidak langsung
Dampak
dari hubungan dalam keluarga terhadap perkembangan anak menjadi lebih rumit
ketika kita menyadari bahwa hubungan antara dua anggota keluarga dipengaruhi
oleh kehadiran orang lain dalam lingkungan mereka, atau Bronfenbrenner (dalam
Berk, 2005) menyebutnya sebagai pihak ketiga (Thirt parties). Pihak
ketiga dapat menjadi pihak yang memberi dukungan dalam perkembangan. Kehadiran
anak diantara kehidupan orangtua juga mempengaruhi hubungan orangtua mereka. Kekuatan
saling pengaruh-mempengaruhi dalam keluarga bersifat dinamis dan selalu
mengalami perubahan, begitu salah satu anggota keluarga beradaptasi dengan
perkembangan yang terjadi pada anggota lain.misalnya ketika seorang anak sudah
berhasil menguasai keterampilan yang baru, maka orangtua menyesuaikan cara
mereka menghadapi anak sesuai dengan kemampuan baru yang dimiliki oleh anak.
Orangtua merubah caranya menghadapi anak sejalan dengan perkembangan anak,
sebaliknya perubahan yang terjadi pada orangtua juga mempengaruhi anak dalam
berperilaku. Perubahan-perubhaan dalam lingkungan
yang muncul bersamaan dengan perkembangan anak juga mempengaruhi cara orangtua
mengasuh anaknya.
2) Status Sosial, Ekonomi dan Fungsi Keluarga.
Dalam
banyak budaya, maka status sosial ekonomi mempengaruhi kapan seseorang anak
memutuskan akan menjadi orangtua dan besarnya anggota keluarga.
Penelitian-penelitian di Amerika memperlihatkan bahwa orang-orang yang
pekerjaannya memerlukan keterampilan tidak terlalu khusus dan khusus misalnya
penjaga sesuatu, dll. Cenderung menikah dan memiliki anak lebih cepat (muda)
dengan jarak kelahiran anak lebih dekat dan jumlah anak lebih banyak
dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan kantoran dan
profesional. Kedua kelompok ini juga memiliki nilai-nilai dan harapan yang
berbeda dalam mengasuh anak-anak mereka.
Kondisi
kehidupan dalam keluarga dapat membantu kita untuk memahami mengapa keadaan
seperti ini dapat muncul. Orangtua dengan status sosial ekonomi lebih rendah
seringkali merasa tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki pengaruh saat
menjalin hubungan diluar kehidupan rumah atau dalam masyarakat. Namun
sebaliknya dengn orangtua yang memiliki sosial ekonomiu lebih tinggi, mereka
nampaknya lebih dapat mengontrol kehidupan mereka.
3) Kemiskinan.
Kemiskinan membuat kesehatan fisik
memburuk, kemampuan kognitif atau kecerdasan berkurang atau tidak berkembang
optimal, kemampuan akademis menurun, putus sekolah, gangguan jiwa dan
meningkatkan perilaku antisosial atau kenakalan. (Poulton dkk., 2000; Secombe,
2002; dalam Berk, 2005). Selain anak maka stres yang muncul secara terus
menerus akibat kemiskinan ini membuat orangtua menjadi depresi, mudah marah,
mudah tersinggung, dan pada akhirnya akan mengganggu perkembangan anak.
4) Perbedaan
budaya.
Masyarakat tempat seorang anak dilahirkan masih memberikan pengaruh
yang paling besar. Setiap negara, setiap suku daya dalam suatu negara, memiliki
cara-caranya tersendiri dalam memperlakukan seorang bayi dan anak , mereka juga
memiliki harapan yang khas. Di satu sisi beberapa ahli menekankan pada adanya
faktor genetik yang menyebabkan munculnya perbedaan. Sementara di sisi yang
lain lebih menekankan kepada adanya perbedaan pola pengasuhan, mereka melihat
bila anak-anak di Afrika ini mendapat perlakuan yang sama seperti anak-anak di
Barat, maka mereka akan belajar berjalan dengan kecepatan yang sama.
Bila kita cermati, maka di seluruh dunia ini amat banyak
perbedaan-perbedaan yang dapat kita amati, mengenai bagaimana cara-cara setiap
budaya memperlakukan bayi-bayi yang baru lahir. Hampir semua bangsa, melalui
sistem pendidikan di sekolah, secara didasari maupun tidak cenderung menekan
anak-anak, agar mereka mematuhi nilai-nilai budaya yang berkembang dalam
masyarakatnya. Bila mereka tidak patuh pada nilai-nilai tersebut, maka hukuman
atau “label” tertentu akan diberikan pada anak tersebut.
5) Ketangguhan
(resiliency)
Ketangguhan (resiliency) adalah
suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dan dengan kemampuan tersebut,
individu mampu bertahan dan berkembang secara sehat serta menjalani kehidupan
secara positif dalam situasi yang kurang menguntungkan atau penuh dengan
tekanan. Hal lain yang perlu dipahami bahwa ketangguhan itu adalah suatu
kemapuan yang dimiliki oleh anak karena adanya proses belajar. Saat seorang
anak merasa tidak pasti maka mereka akan melihat kepada dean meminta dukungan
kepada orangtuanya dengan tanda-tanda tertentu seperti adanya bahasa tubuh
tertentu yang diberikan sebagai dukungan, sehingga mereka dapat berinteraksi
dengan tepat. Dengan demikian, interprestasi anak terhadap situasi yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dipelajari dari bagaiman orangtua
berinteraksi terhadap kebutuhan mereka.
Penelitian yang panjang dilakukan
oleh banyak peneliti untuk melihat faktor-faktor apa yang melindungi seorang
anak dari kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari lingkungan yang penuh
dengan tekanan. Ditemukan adanya empat faktor utama, yaitu:
a. Karakteristik pribadi.
Karakteristik bawaan seorang anak
dapat mengurangi dampak negatif akibat paparan yang terus menerus dari situasi
yang penuh dengan tekanan atau mengarahkan pada keadaan yang lebih buruk.
Intelegensi yang tinggi dan bakat-bakat sosial yang bermanfaat merupakan faktor
protektif.
b. Pengasuhan yang penuh kehangatan.
Hubungan yang dekat dengan paling tidak salah satu orangtua yang
penuh dengan kehangatan, meletakkan harapan yang tinggi dan tepat pada anak,
memantau kegiatan anak dan menciptakan
lingkungan rumah yang dapat menumbuhkan ketangguhan pada anak. Faktor
ini tidak dapat lepas dari karakteristik yang dimiliki oleh anak.
c. Dukungan sosial
selain keluarga inti.
Contohnya
: Aam memiliki paman yang senang memperbaiki mobil serta memiliki
bengkel kecil, meskipun sederhana namun keluarga paman beserta anaknya yang
sebaya dengan Aam dengan tangan terbuka menerima kedatangan Aam setiap sabtu
dan minggu ke bengkel mereka yang sederhana yang untuk turut membantu-bantu.
Secara tidak didasari, paman dan keluarganya
menjadi model bagi Aam untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan.
d. Masyarakat yang
perduli.
Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, kelompok keagamaan dan organisasi
lainnya mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yang amat penting.
Penelitian dalam bidang ketangguhan memperlihatkan hubungan yang komplek antara
faktor bawaan dengan lingkungan. Apapun alasannya, maka satu hal yang perlu
mendapatkan perhatian penuh adalah bahwa untuk mengoptimalkan perkembangan
seorang anak, maka faktor resiko harus diperkecil dan faktor protektif
diperkuat.
6) Penanganan.
Orangtua tentu
saja akan memerlukan bantuan pada ahli bila ternyata anaknya mengalami
kelainan. Ada beberapa jenis yang disarankan, sebagai berikut:
a. Penanganan Medis.
Penting bagi orangtua mengetahui dengan jelas apa efek samping dari
obat yang akan diberikan pada anak
mereka.
b. Terapi Bermain.
Terapi bermain adalah salah satu bentu psikoterapi yang digunakan
bagi anak-anak lebih kecil untuk mengatasi keterbatasan verbal mereka.
c. Terapi Perilaku.
Adalah mengajarkan anak perilaku baru dengan cara mengubah
lingkungan, mengajarkan keterampilan baru atau mengubah proses kognitif dan emosional
anak.
d. Terapi Keluarga.
Dalam terapi ini semua anggota
keluarga yang terkait, bukan hanya anak, bertemu bersama-sama dengan terapis
dengan tujuan memecahkan masalah mereka.
e. Fisioterapis
Bagi
anak-anak dengan kelainan yang memerlukan fungsi anggota tubuh meskipun
kelainan-kelainan pada anak seringkali muncul bukan karena penyebab tunggal,
maka kelainan pada anak harus didefinisikan dalam pemahaman penyimpang dari
perilaku normal dan dibandingkan dengan pencapaian yang biasa dicapai oleh anak-anak
lain dalam rentang usia yang sama.
LAYANAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan
layanan sebagai perihal atau cara melayani. Alwi Hasan (2005: 646)
mendefinisikan pelayanan sebagai “(1) perihal atau cara melayani; (2) usaha
melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan
yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang”. Jadi layanan
dapat diartikan sebagai usaha yang
diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Layanan
anak berkebutuhan khusus merupakan layanan yang diberikan oleh seseorang (guru)
kepada orang lain (anak berkebutuhan khusus) untuk memenuhi kebutuhannya.
Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan sebagaimana yang telah diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 5 ayat (2)
menyatakan bahwa “Warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan layanan khusus”.
Menurut Deden Saeful Hidayat & Wawan (2013: 3-4) sesungguhnya mereka yang
termasuk anak berkebutuhan khusus adalah “Anak yang secara pendidikan
memerlukan layanan spesifik yang berbeda dengan anak normal pada umumnya”. Oleh
karena itu mereka yang termasuk anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan
pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang
dialaminya atau sesuai dengan jenis kebutuhan yang dimiliki anak yang
bersangkutan.
Menurut Bratanata (1975: 87) layanan ialah
“Pemberian bantuan atau bimbingan kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya
agar mereka dapat belajar dengan baik”. Sekolah tidak hanya memberikan layanan
kepada anak normal pada umumnya melainkan juga kepada anak berkebutuhan khusus.
Sekolah harus memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa
dapat mengembangkan kemampuan serta potensi yang dimiliki siswa yang
bersangkutan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan inklusif harus mampu
memberikan layanan, khususnya layanan yang berkaitan dengan layanan akademik
serta layanan non-akademik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
Hal-hal yang berkaitan dengan layanan akademik yaitu peserta didik, kurikulum,
sarana prasarana, serta pendidik.
PENGERTIAN PERLAKUAN GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Perlakuan guru terhadap
anak berkebutuhan khusus atau yang bisa disebut dengan layanaan pendidikan yang
diberikaan guru kepada siswa berkebutuhan khusus. Menurut Wardani (2013: 2.6),
layanan pendidikan mempunyai makna yang cukup besar karena memang mereka
memerlukan pelayanan ekstra, yang berbeda dari layanan yang diberikan kepada
orang-orang yang tidak menyandang kelainan. Sesuai dengan jenis kelainan yang
mereka sandang mereka mempunyai perbedaan dalam dalam kemampuan belajar,
perkembangan sosio-emosional yang berdampak pada kemampuan bersosialisasi,
serta kondisi fisik dan kesehatan. Pemerintah diharapkan mampu melayani
kebutuhan anak berkebutuhan khusus dalam hal pendidikan dengan baik dan layak. Dalam
kutipan buku karangan Wardani (2013 : 2.28) menjelakan jika pelayanan untuk
anak berkebutuhan khusus dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Layanan sekolah biasa
Pada layanan ini anak
berkebutuhan khusus yang memenuhi syarat bersekolah bersama-sama dengan anak
lain disekolah biasa, model ini merupakan model intergrasi penuh dan merupakan
model yang diingini oleh penganut inklusi, yang menghendaki agar secara penuh
dilayani disekolah biasa yang terdekat dengan tempat tinggalnya.
b. Sekolah biasa dengan guru konsultan
Model layanan ini, ABK
bersekolah di sekolah biasa. Sekolah tersebut dibantu oleh guru pendidik khusus
sebagai konsultan bagi para guru, kepala sekolah, dan orangtua ABK yang ada
disekolah tersebut.
c. Sekolah biasa dengan guru kunjung
Model ini hampir sama
dengan model guru konsultan. ABK besekolah di sekolah biasa, dengan para guru
yang mengajar di sekolah tersebut dibantu oleh guru kunjung, guru kunjung
adalah guru pendidikan khusus yang bertugas lebih dari satu sekolah.
d. Model ruang sumber
Dengan menerapkan ruangan
bimbingan khusus bagi siswa. ABK belajar bersama dengan siswa normal namun sewaktu-waktu,
ABK meninggalkan kelas biasa dengan pergi keruang sumber untuk mendapat
bimbingan dari guru pembimbing khusus (GPK). Dengan demikian, kekuatan model
ini terletak pada pemenuhan kebutuhan ABK secara teratur sementara dia tetap
dapat berinteraksi dengan anak normal.
e. Model khusus
Model ini menyediakan
layanan bagi anak ABK dalam satu sekolah khusus di siang hari (jam sekolah),
sedangkan pada waktu-waktu diluar hari/jam sekolah para ABK berada di rumah
bersama keluarga dan di lingkungan masyarakat sekitarnya.
f. Model kelas khusus siang hari
Model ini layanan untuk
anak ABK diberikan kelas-kelas terpisah dari anak normal, dengan demikian ABK
mempunyai kelas sendiri dengan para guru disiapkan untuk melayani ABK jenis
tertentu
g. Model sekolah panti asuhan atau rumah
sakit
Dalam model ini layanan
pendidikan bagi ABK diberikan di panti-panti asuhan atau rumah sakit tempat ABK
dirawat. Misalnya untuk anak yang mebutuhkan perawatan intensif atau penyandang tunaganda, panti ataau rumah sakit
merupakan tempat tinggal mereka, sekaligus tempat bagi pendidikan mereka. (Djamarah,
2002 : 49). Hal ini juga berarti bahwa seorang guru seharusnya mampu memahami
karakteristik kelasnya agar pembelajaran dapat efektif dan efisien sehingga
pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan perbedaan individual anak.
Kesiapan seseorang untuk
menjadi guru ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai bidangnya, minat, bakat,
serta keselarasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan sikap terhadap bidang
profesinya. Untuk memastikan kesiapan guru kelas dalam menangani anak
berkebutuhan khusus, guru kelas diharuskan memiliki kompetensi memadai yang
dapat diperoleh melalui pembinaan. Pembinaan disini lebih mengarah pada
pembinaan profesi berupa penyetaraan, sertifikasi, pelatihan ataupun penataran.
Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengenal dan memahami anak berkebutuhan khusus
serta meningkatkan kinerja dan profesionalitas guru di dalam kelas.
Ketersediaan serta kesiapan guru kelas dan guru pembimbing khusus adalah salah
satu faktor yang sangat penting dalam memberikan program pendampingan
pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, guru kelas dan
guru pembimbing khusus harus senantiasa meningkatkan kesiapannya dalam
menangani anak berkebutuhan khusus.
BENTUK PERLAKUAN GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Ginintasasi (2009:8)
mengemukakan beberapa prinsip bimbingan dalam menangani anak berkebutuhan
khusus. Prinsip bimbingan tersebut kemudian dimaknai oleh peneliti sebagai
perilaku guru kelas yang memiliki kesiapan dalam menangani anak berkebutuhan
khusus. Bentuk perlakuan sebagai berikut:
a. Perilaku
menunjukkan perasaan positif, yaitu perasaan peduli dan bertanggung jawab untuk
memberikan bantuan pada anak berkebutuhan khusus.
b. Perilaku
beradaptasi dengan anak. Adaptasi dengan kondisi anak berkebutuhan khusus yang
dimaksud berupa menyesuaikan program pembelajaran untuk anak berkebutuhan
khusus. Perilaku memperhatikan dan mengakui inisiatif serta cara belajar anak
secara individual akan memiliki dampak
yang sangat besar bagi anak berkebutuhan khusus. Bagaimanapun juga anak
berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki perbedaan dari anak lain,
sehingga program pembelajaran dan penanganan untuk anak berkebutuhan khusus
perlu dilakukan adaptasi dengan karakteristik individual mereka.
c. Berbicara
dengan anak, yaitu berinteraksi dalam bentuk mengajak anak untuk berpartisipasi
dalam dialog mengenai isi tema yang akan dipelajari sehingga mereka terlibat
secara pribadi.
d. Memberikan
pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan diberikan oleh guru kelas
apabila anak mau berusaha dan mau bekerja sama atau mengikuti instruksi yang
diberikan.
e. Membantu
anak untuk memfokuskan perhatiannya. Seorang guru yang baik hendaknya
senantiasa memberikan saran bagi anak didiknya dan bersedia bekerja dengan
mereka. Perhatian dan pengalaman bersama merupakan sebuah prasyarat untuk
menjalin komunikasi yang berpengaruh bagi perkembangan anak berkebutuhan
khusus.
f.
Membuat pengalaman anak menjadi bermakna.
Anak didik berkebutuhan khusus akan lebih memahami sesuatu apabila memiliki
pengalaman yang bermakna. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melibatkan anak
berkebutuhan khusus secara langsung terhadap
pembelajaran yang dilaksanakan.
g. Perilaku
menjabarkan dan menjelaskan. Tugas lain seorang guru adalah membantu anak
didiknya dalam mengaitkan materi yang mereka pelajari dengan mata pelajaran
lain dan aktivitas akademik lainnya. Ini akan memberikan wawasan, membantu
membentuk asosiasi, membantu anak mencapai “pengalaman nyata” yang lebih
holistik, serta memancing keingintahuan dan motivasi untuk belajar. Membantu anak mencapai
disiplin diri, yaitu membantu anak untuk mencapai ketaatan dan ketepatan pada
suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan
pihak lain.
Tentu saja penggolongan seperti ini memerlukan pengamatan yang baik karena untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelainan atau tidak bukan hal yang mudah. Dengan kata lain, penentuan tidak dilakukan pada saat pertama kali bertemu. Pandangan ini mengatakan bahwa seseorang dikatakan abnormal bila ia berbeda dari rata-rata, ini berarti berlaku juga bagi orang-orang yang berbeda dari rata-rata ke arah sebaliknya. Misalnya, orangorang dengan inteligensi superior (juga menyimpang 2 simpang baku dari tingkat inteligensi rata-rata, tetapi ke arah berlawanan dari keterbelakangan mental yaitu ke arah atas) yang juga menyimpang dari rata-rata, apakah kita akan menyebut mereka juga sebagai abnormal? Kebanyakan orang akan menolak jika kita menggolongkan orang-orang dengan fungsi inteligensi superior ini sebagai orang-orang dengan ciri-ciri psikopatologi. Kesulitan lain yang muncul bila menggunakan pendekatan ini adalah tidak ada petunjuk umum yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan seberapa besar perbedaan yang harus dimiliki oleh seseorang dari rata-rata, agar dapat dikatakan abnormal? dan dalam kondisi yang bagaimana perbedaan tersebut muncul?
3. Penyimpangan dari yang Ideal (Abnormality as Deviation from the Ideal)
Salah
satu pilihan dari model statistik untuk menentukan abnormalitas adalah penyimpangan
dari yang ideal. Pendekatan ini tidak melihat abnormalitas sebagai seberapa
menyimpang dari rata-rata atau seberapa sehat seseorang, namun mencoba
menentukan kepribadian ideal yang sehat dan menentukan bahwa penyimpangan dari
hal-hal ideal yang telah ditentukan inilah yang disebut sebagai abnormal.
Masalah utama dari konsep alternative ini adalah bagaimana merumuskan
kepribadian ideal yang sehat. Beberapa ahli, seperti Freud dan Maslow mencoba
membuat pedoman berdasarkan teori mereka yang diyakini dapat menggambarkan
kepribadian ideal dari individu. Tetapi siapa yang memiliki wewenang untuk
mengatakan bahwa teori mereka benar? Apa yang menjadi gambaran dari penyesuaian
yang ideal? Apakah anda berkenan untuk menganggap seseorang yang hanya sebentar
"menyimpang" dari kriteria dikatakan sebagai abnormal? Akan terlalu
banyak muncul pertanyaan berkaitan dengan banyak hal.
Selain itu hal lain yang menjadi perhatian utama adalah, kebanyakan teori tumbuh dan berkembang dari "dunia barat". Sementara pada dunia timur, hal-hal yang dianggap penting berdasarkan teori tersebut, belum tentu sama. Meskipun tidak ada seorang pun yang dapat menerima salah satu definisi tersebut di atas sebagai sesuatu yang ideal, namun dalam kenyataannya dalam berbagai penelitian secara implisit ditemukan adanya kriteria "ideal" yang berkembang dalam suatu budaya mengenai apa yang disebut sebagai abnormal.
PERKEMBANGAN ANAK YANG BERKELAINAN ATAU ABNORMAL
Penggunaan
pendekatan perkembangan untuk melihat kelainan (nonnormatif) yang diderita oleh
anak sebenarnya berlandaskan empat tema dasar atau prinsip, yaitu pertama,
kelainan muncul atau terjadi hanya pada individu yang mengalami perkembangan.
Tujuan atau tugas perkembangan di sini adalah menerangkan asal usul gejala dan
penyebab dari kelainan perilaku yang muncul. Frekuensi dan pola gejala dari
kelainan perilaku akan bervariasi tergantung dari penyebab yang muncul sesuai
perkembangan individu. Misalnya, stres ada pada setiap tahap usia perkembangan
individu. Penyebab munculnya stres pada anak usia sekolah biasanya ditandai
dengan perilaku menarik diri dari lingkungan dan murung, bahkan sering
tertutupi oleh gejala lain seperti hiperaktif, mengompol, kesulitan belajar dan
bahkan kemungkinan hingga perilaku antisosial. Sementara pada remaja, banyak
ditandai dengan keinginan untuk bunuh diri ― bahkan di media masa tanggal 4 Maret
2005 diberitakan seorang anak SMP dari suatu kota kecil di Jawa Tengah, telah
dua kali mencoba bunuh diri dengan cara hendak melompat dari tempat tinggi
karena selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya (sesuatu yang hampir tidak
pernah muncul pada anak tahap usia sekolah atau prasekolah) ―,rasa tidak
berguna, rendahnya kepercayaan diri, dan rasa bersalah. Kecenderungan untuk
bunuh diri yang muncul pada masa remaja ini kemungkinan berkaitan dengan
keadaan masa pubertas, perkembangan kognitif yang lebih maju, berbagai macam
stres yang muncul dan penyesuaian diri yang harus dilakukan dalam berbagai
ragam situasi selama tahap remaja.
Prinsip
atau tema dasar kedua, kelainan perkembangan atau psikopatologi harus
dipandang dalam kaitannya dengan perkembangan yang normal, tugas-tugas
perkembangan utama dan perubahan-perubahan yang muncul sepanjang rentang
kehidupan. Psikopatologi sering kali didefinisikan sebagai penyimpangan dari
perilaku yang normal karena pada hakikatnya ada pencapaian normal tertentu yang
harus dapat dipenuhi oleh setiap individu pada setiap tahap usia tertentu. Isue
kritis yang muncul adalah bagaimana membedakan antara "gangguan"
perkembangan yang masih dapat ditolerir atau masuk dalam kategori normal dengan
yang sudah memerlukan penanganan serius. Dalam kehidupan sehari-hari tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap individu memiliki masalah pada waktu tertentu
dalam periode kehidupan mereka, namun tingkatannya masih dapat dikatakan
normal. Misalnya tempertantrum yaitu perilaku yang dikatakan normal bila muncul
pada anak usia 2 tahun, namun bila remaja masih melakukan hal tersebut bukan
lagi masuk dalam kategori normal.
Tema
dasar atau prinsip ketiga, tanda-tanda awal dari perilaku berkelainan
harus dipelajari secara serius. Meskipun definisi kelainan perkembangan
(psikopatologi) tidak terlalu jelas dan belum terlalu stabil pada anak-anak
usia muda dibandingkan orang dewasa, namun ada perilaku yang merupakan
tanda-tanda awal bagi terjadinya kelainan perilaku dan ternyata berhubungan
dengan masalah serius yang muncul kemudian. Misalnya anak yang tidak patuh dan
ditolak oleh teman-temannya saat berada di TK, sebenarnya perilaku anak ini
merupakan peringatan awal dari terbentuknya perilaku lain yang lebih berat,
yaitu perilaku antisosial. Anakanak seperti ini di rumah biasanya mereka keras
kepala, memaksakan kehendak dan bersitegang terus dengan orang tua, mereka juga
cenderung tidak sensitif, agresif dan tentu saja tidak disukai oleh teman
sebayanya. Penolakan dari teman sebaya mendorong anak untuk berteman dengan kelompok
yang juga ditolak atau menyimpang dan kemudian mendorong mereka untuk bergaul
dengan anak-anak yang tergolong antisosial. Sehingga dalam usia remaja
kemungkinan untuk terlibat dengan obat-obatan, pencurian dan keterlibatan
dengan minuman keras menjadi semakin terbuka.
Terakhir atau yang keempat, ada beragam patokan atau karakteristik perkembangan baik yang normal maupun berkelainan. Faktor yang beragam tersebut, sebagian bersifat genetis dan sebagian lagi karena lingkungan atau pengalaman, bahkan kedua hal tersebut saling berinteraksi dan kemungkinan membuat anak mengalami perubahan dari kondisi normal menjadi mengalami kelainan atau sebaliknya dari kondisi kelainan menjadi normal.
CIRI-CIRI ANAK DENGAN PERKEMBANGAN NONNORMATIF
Bukan
perkara mudah untuk menetukan apakah perkembangan seorang anak berada pada
kondisi yang normatif atau nonnormatif. Nonnormatif adalah suatu keadaan yang
menimbulkan dampak amat besaar atau luas pada kehidupan seorang individu atau
anak. Secara tradisional menurut Mash dan Wolf dapat dilihat dari adanya pola perilaku,
kognitif, emosional atau sintom fisik yang diperlihatkan oleh anak. beberapa
pola tersebut behubungan dengan satu atau lebih dari tiga ciri yang menonjol di
bawah ini:
1. Anak
menunjukkan adanya gejala kesedihan (distress), misalnya ketakutan atau
kesedihan.
2. Perilaku
anak menunjukkan adanya tingkat disabilitas tertentu, Misalnya kerusakan yang
secara mendasar mengakibatkan gangguan atau membatasi aktifitas dari sat atau
beberapa area fungsional penting, termasuk emosional, fisik, kognitif dan
perilaku.
3. Tingkat
distress atau disabilitas tersebut menimbulkan risiko penderitaan atau ancaman
lebih jauh misalnya kematian, sakit, disabilitas atau kehilangan kebebasan yang
penting.
Hal
yang patut dicermati dari ketiga ciri yang menonjol dari kemungkinan munculnya
perilaku nonnormatif berdasarkan keterangan di atas adalah ketiga ciri tersebut
hanya menggambarkan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh seseorang
dalam situasi tertentu. Walaupun perkembangan nonnormatif selalu dikaitkan
dengan pola-pola tertentu yang bersifat individual, namun karena ketergantungan
anak yang amat besar dengan orang lain yang berada disekitarnya, maka dalam
memahami masalah yang dihadapi anak juga akan lebih baik bila kita melihatnya
dalam kaitan hubungan tersebut tidak semata-mata hanya melihatnya sebagai
masalah anak saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar