Rabu, 20 Mei 2020

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Part 1

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS




Dosen Pengampu
Ridwan, S. Psi., M. Psi., Psikolog.











Oleh
Yuniswar  (NIM: 209173272)


PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERISULTHAN THAHA SYAIFUDDIN JAMBI
2020






HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

    Setiap orang tua, pasti menginginkan buah hati yang sehat dan normal. Namun ditiap-tiap kelahiran diseluruh dunia, pasti ada satu dari sekian bayi yang memiliki kecacatan baik secara fisik maupun psikis,  dan mempunyai faktor-faktor sendiri yang melatarbelakangi. Anak tersebut kemudian lambat laun memerlukan perlakuan khusus dalam setiap penanganannya bahkan hingga ia dewasa. Oleh karenanya, mereka biasa disebut dengan anak berkebutuhan khusus.

    Anak berkebutuhan khusus jika ditelaah maka dapat diartikan dengan anak yang "spesial" karena memiliki hal-hal yang tidak biasa ditemukan pada anak seusianya. Mereka cenderung berbeda dengan anak-anak pada umumnya karena memiliki keterlambatan dalam pertumbuhan atau perkembangannya.


Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus

    Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, sehingga berbeda dengan anak normal seusianya. Perbedaan yang ada dalam diri anak berkebutuhan khusus dapat dilihat dari perbedaan interindividual, maupun intraindividualnya. Anak-anak tersebut biasanya mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan, sehingga seringkali menjadi tantangan bagi guru maupun orang tua. Maka untuk mengembangkan potensinya, dibutuhkan pemahaman yang mendalam serta pengajaran khusus.


Faktor Penyebab Kelainan

      Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kelainan pada anak berkebutuhan khusus ada 5, yaitu:

1. Herediter

    Kebanyakan anak berkebutuhan khusus merupakan bawaan dari lahir. Dan yang mendasari hal tersebut, adalah faktor hereditas atau genetik yang diturunkan dari orang tua.

2. Infeksi

    Infeksi (baik secara langsung ataupun tidak langsung) yang menyerang bayi sebelum / sesudah lahir juga dapat menyebabkan kelainan.

3. Keracunan

    Keracunan yang dimaksud dapat secara langsung pada anak, maupun lewat perantara ibu ketika mengandung.

4. Trauma

    Merupakan cedera yang terjadi pada anak sehingga menyebabkan perubahan struktur rangka, ataupun cedera yang terjadi ketika proses persalinan.

5. Kekurangan Gizi

    Kurangnya asupan gizi pada bayi dalam kandungan maupun sesudah lahir, sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Sehingga jika asupan yang diberika tidak sesuai atau takarannya kurang, dapat menyebabkan kelainan.


Dampak Terjadinya Kelainan

    Kelainan yang terjadi pada anak berkebutuhan khusus, sedikit-banyak pasti akan mempengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari. Dampak-dampak tersebut dibagi menjadi 3:

1. Dampak Fisiologis

Dampak ini berkaitan dengan fisik anak, baik tampilan maupun koordinasinya. Anak seringkali akan kesulitan untuk mengontrol koordinasi gerak, jika terdapat kelainan pada anggota tubuhnya.

2. Dampak Psikologis

Dampak psikologis merupakan dampak yang berhubungan dengan keadaan mentalnya. Keadaan mental yang labil akibat kelainan, akan mengganggu proses kejiwaannya.

3. Dampak Sosiologis

Dampak ini timbul karena hubungan anak dengan lingkungan sekitarnya. Perbedaan yang ada pada anak berkebutuhan khusus seringkali memunculkan minder dan mental yang labil, sehingga anak tersebut kesulitan dalam berbaur atau bersosialisasi.


Konsep Pendidikan Luar Biasa

Anak-anak berkebutuhan khusus tentunya akan membutuhkan tenaga khusus dalam dunia pendidikan. Menurut Hallahan dan Kauffman (1991), bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus  meliputi berbgaia pilihan:

  • Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa)

  • Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB)

  • Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung)

  • Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber)

  • Pusat Diagnostik-Prescriptif

  • Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).

  • Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB)

  • Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)

  • Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)


KELAINAN ATAU ABNORMAL

Ada beberapa pandangan yang muncul jika kita bicara mengenai apa yang disebut normal atau tidak normal(bersifat nonnormatif) beberapa diantaranya akan dibahas dibawah ini:

1.      Model Medis (Medical Model)

Orang-orang yang memiliki pandangan seperti ini bila mendengar istilah kelainan perilaku akan cenderung melihat atau memandang anak yang mengalami kelainan sebagai anak yang jiwanya menderita "sakit" atau berpikiran bahwa apa yang diderita atau dialami anak analog dengan sakit fisik. Seperti para ahli medis maka para ahli yang menggunakan pendekatan ini melihat kelainan pada anak dengan berusaha mencari apa penyebab dan bagaimana penanganan (treatment) yang sesuai.

Para ahli yang menggunakan pendekatan ini mengasumsikan bahwa kelainan psikologis ― seperti juga penyakit fisik ― hidup dan menetap di dalam diri anak dan merupakan hasil dari proses-proses fisiologis atau intrapsikis. Namun pendekatan ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari para ahli karena para ahli beranggapan bahwa kelainan pada anak atau patologi yang dimaksud lebih merupakan masalah yang muncul atau berkembang dalam kehidupan. Bahkan beberapa masalah dikatakan patologis berdasarkan penilaian sosial, bukan berdasarkan hasil objektif dari tes medis.

Dalam kenyataannya dengan menggunakan pendekatan medis ini, akan terdapat banyak kesulitan untuk menegakkan kriteria bagi individu-individu yang dikatakan abnormal. Sehingga diperlukan kesadaran dan kehati-hatian yang sangat serta kemampuan melihat masalah tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Sementara sekarang ini para ahli lebih menekankan terjadinya kelainan atau abnormalitas berdasarkan nilai-nilai individual dan nilai-nilai budaya.

2. Penyimpangan dari Rata-Rata (Abnormality as Deviation from The Average)

Istilah "abnormal" secara harfiah berarti "terpisah atau berbeda dari yang normal", model ini mencoba melihat bahwa perilaku atau perasaan yang berbeda dari rata-rata adalah sesuatu yang abnormal. Metode ini mendefinisikan kelainan atau abnormalitas dengan menggunakan model statistik sebagai rujukannya. Mereka mencoba melihat berapa besar penyimpangan suatu perilaku dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya. Misalnya, oleh American Association of Mental Deficiency (AAMD) seseorang dikatakan mengalami keterbelakangan mental jika ia memiliki tingkat inteligensi yang menyimpang sekitar 2 simpang baku (standar deviation) di bawah tingkat inteligensi rata-rata atau IQ berada di bawah 70 menurut skala Wechsler Intelligence Scale for Children - Revised (WISC-R).

Tentu saja penggolongan seperti ini memerlukan pengamatan yang baik karena untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelainan atau tidak bukan hal yang mudah. Dengan kata lain, penentuan tidak dilakukan pada saat pertama kali bertemu. Pandangan ini mengatakan bahwa seseorang dikatakan abnormal bila ia berbeda dari rata-rata, ini berarti berlaku juga bagi orang-orang yang berbeda dari rata-rata ke arah sebaliknya. Misalnya, orangorang dengan inteligensi superior (juga menyimpang 2 simpang baku dari tingkat inteligensi rata-rata, tetapi ke arah berlawanan dari keterbelakangan mental yaitu ke arah atas) yang juga menyimpang dari rata-rata, apakah kita akan menyebut mereka juga sebagai abnormal? Kebanyakan orang akan menolak jika kita menggolongkan orang-orang dengan fungsi inteligensi superior ini sebagai orang-orang dengan ciri-ciri psikopatologi. Kesulitan lain yang muncul bila menggunakan pendekatan ini adalah tidak ada petunjuk umum yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan seberapa besar perbedaan yang harus dimiliki oleh seseorang dari rata-rata, agar dapat dikatakan abnormal? dan dalam kondisi yang bagaimana perbedaan tersebut muncul?

3. Penyimpangan dari yang Ideal (Abnormality as Deviation from the Ideal)

Salah satu pilihan dari model statistik untuk menentukan abnormalitas adalah penyimpangan dari yang ideal. Pendekatan ini tidak melihat abnormalitas sebagai seberapa menyimpang dari rata-rata atau seberapa sehat seseorang, namun mencoba menentukan kepribadian ideal yang sehat dan menentukan bahwa penyimpangan dari hal-hal ideal yang telah ditentukan inilah yang disebut sebagai abnormal. Masalah utama dari konsep alternative ini adalah bagaimana merumuskan kepribadian ideal yang sehat. Beberapa ahli, seperti Freud dan Maslow mencoba membuat pedoman berdasarkan teori mereka yang diyakini dapat menggambarkan kepribadian ideal dari individu. Tetapi siapa yang memiliki wewenang untuk mengatakan bahwa teori mereka benar? Apa yang menjadi gambaran dari penyesuaian yang ideal? Apakah anda berkenan untuk menganggap seseorang yang hanya sebentar "menyimpang" dari kriteria dikatakan sebagai abnormal? Akan terlalu banyak muncul pertanyaan berkaitan dengan banyak hal.

Selain itu hal lain yang menjadi perhatian utama adalah, kebanyakan teori tumbuh dan berkembang dari "dunia barat". Sementara pada dunia timur, hal-hal yang dianggap penting berdasarkan teori tersebut, belum tentu sama. Meskipun tidak ada seorang pun yang dapat menerima salah satu definisi tersebut di atas sebagai sesuatu yang ideal, namun dalam kenyataannya dalam berbagai penelitian secara implisit ditemukan adanya kriteria "ideal" yang berkembang dalam suatu budaya mengenai apa yang disebut sebagai abnormal. 

PERKEMBANGAN ANAK YANG BERKELAINAN ATAU ABNORMAL

Penggunaan pendekatan perkembangan untuk melihat kelainan (nonnormatif) yang diderita oleh anak sebenarnya berlandaskan empat tema dasar atau prinsip, yaitu pertama, kelainan muncul atau terjadi hanya pada individu yang mengalami perkembangan. Tujuan atau tugas perkembangan di sini adalah menerangkan asal usul gejala dan penyebab dari kelainan perilaku yang muncul. Frekuensi dan pola gejala dari kelainan perilaku akan bervariasi tergantung dari penyebab yang muncul sesuai perkembangan individu. Misalnya, stres ada pada setiap tahap usia perkembangan individu. Penyebab munculnya stres pada anak usia sekolah biasanya ditandai dengan perilaku menarik diri dari lingkungan dan murung, bahkan sering tertutupi oleh gejala lain seperti hiperaktif, mengompol, kesulitan belajar dan bahkan kemungkinan hingga perilaku antisosial. Sementara pada remaja, banyak ditandai dengan keinginan untuk bunuh diri bahkan di media masa tanggal 4 Maret 2005 diberitakan seorang anak SMP dari suatu kota kecil di Jawa Tengah, telah dua kali mencoba bunuh diri dengan cara hendak melompat dari tempat tinggi karena selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya (sesuatu yang hampir tidak pernah muncul pada anak tahap usia sekolah atau prasekolah) ,rasa tidak berguna, rendahnya kepercayaan diri, dan rasa bersalah. Kecenderungan untuk bunuh diri yang muncul pada masa remaja ini kemungkinan berkaitan dengan keadaan masa pubertas, perkembangan kognitif yang lebih maju, berbagai macam stres yang muncul dan penyesuaian diri yang harus dilakukan dalam berbagai ragam situasi selama tahap remaja.

Prinsip atau tema dasar kedua, kelainan perkembangan atau psikopatologi harus dipandang dalam kaitannya dengan perkembangan yang normal, tugas-tugas perkembangan utama dan perubahan-perubahan yang muncul sepanjang rentang kehidupan. Psikopatologi sering kali didefinisikan sebagai penyimpangan dari perilaku yang normal karena pada hakikatnya ada pencapaian normal tertentu yang harus dapat dipenuhi oleh setiap individu pada setiap tahap usia tertentu. Isue kritis yang muncul adalah bagaimana membedakan antara "gangguan" perkembangan yang masih dapat ditolerir atau masuk dalam kategori normal dengan yang sudah memerlukan penanganan serius. Dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu memiliki masalah pada waktu tertentu dalam periode kehidupan mereka, namun tingkatannya masih dapat dikatakan normal. Misalnya tempertantrum yaitu perilaku yang dikatakan normal bila muncul pada anak usia 2 tahun, namun bila remaja masih melakukan hal tersebut bukan lagi masuk dalam kategori normal.

Tema dasar atau prinsip ketiga, tanda-tanda awal dari perilaku berkelainan harus dipelajari secara serius. Meskipun definisi kelainan perkembangan (psikopatologi) tidak terlalu jelas dan belum terlalu stabil pada anak-anak usia muda dibandingkan orang dewasa, namun ada perilaku yang merupakan tanda-tanda awal bagi terjadinya kelainan perilaku dan ternyata berhubungan dengan masalah serius yang muncul kemudian. Misalnya anak yang tidak patuh dan ditolak oleh teman-temannya saat berada di TK, sebenarnya perilaku anak ini merupakan peringatan awal dari terbentuknya perilaku lain yang lebih berat, yaitu perilaku antisosial. Anakanak seperti ini di rumah biasanya mereka keras kepala, memaksakan kehendak dan bersitegang terus dengan orang tua, mereka juga cenderung tidak sensitif, agresif dan tentu saja tidak disukai oleh teman sebayanya. Penolakan dari teman sebaya mendorong anak untuk berteman dengan kelompok yang juga ditolak atau menyimpang dan kemudian mendorong mereka untuk bergaul dengan anak-anak yang tergolong antisosial. Sehingga dalam usia remaja kemungkinan untuk terlibat dengan obat-obatan, pencurian dan keterlibatan dengan minuman keras menjadi semakin terbuka.

Terakhir atau yang keempat, ada beragam patokan atau karakteristik perkembangan baik yang normal maupun berkelainan. Faktor yang beragam tersebut, sebagian bersifat genetis dan sebagian lagi karena lingkungan atau pengalaman, bahkan kedua hal tersebut saling berinteraksi dan kemungkinan membuat anak mengalami perubahan dari kondisi normal menjadi mengalami kelainan atau sebaliknya dari kondisi kelainan menjadi normal. 

CIRI-CIRI ANAK DENGAN PERKEMBANGAN NONNORMATIF

Bukan perkara mudah untuk menetukan apakah perkembangan seorang anak berada pada kondisi yang normatif atau nonnormatif. Nonnormatif adalah suatu keadaan yang menimbulkan dampak amat besaar atau luas pada kehidupan seorang individu atau anak. Secara tradisional menurut Mash dan Wolf dapat dilihat dari adanya pola perilaku, kognitif, emosional atau sintom fisik yang diperlihatkan oleh anak. beberapa pola tersebut behubungan dengan satu atau lebih dari tiga ciri yang menonjol di bawah ini:

1.      Anak menunjukkan adanya gejala kesedihan (distress), misalnya ketakutan atau kesedihan.

2.      Perilaku anak menunjukkan adanya tingkat disabilitas tertentu, Misalnya kerusakan yang secara mendasar mengakibatkan gangguan atau membatasi aktifitas dari sat atau beberapa area fungsional penting, termasuk emosional, fisik, kognitif dan perilaku.

3.      Tingkat distress atau disabilitas tersebut menimbulkan risiko penderitaan atau ancaman lebih jauh misalnya kematian, sakit, disabilitas atau kehilangan kebebasan yang penting.

Hal yang patut dicermati dari ketiga ciri yang menonjol dari kemungkinan munculnya perilaku nonnormatif berdasarkan keterangan di atas adalah ketiga ciri tersebut hanya menggambarkan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu. Walaupun perkembangan nonnormatif selalu dikaitkan dengan pola-pola tertentu yang bersifat individual, namun karena ketergantungan anak yang amat besar dengan orang lain yang berada disekitarnya, maka dalam memahami masalah yang dihadapi anak juga akan lebih baik bila kita melihatnya dalam kaitan hubungan tersebut tidak semata-mata hanya melihatnya sebagai masalah anak saja.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NON NORMATIF

    Kelainan yang muncul pada seorang anak berkaitan erat dengan faktor – faktor yang mempengaruhi  perkembangan mereka. Faktor – faktor tersebut di antaranya adalah:

1.   Cetak Biru Biologis ( Biological Birthright )

Dalam perjalanannya dapat terjadi kelainan genetis yang lazim dikenal sebagai abnormalitas gen. Abnormalitas ini dapat terjadi ketika kromoson tidak memiliki pasangan ( tunggal ) atau sebagaian kromoson hilang,mengalami duplikasi ( kelipatan ) atau salah ( keluar ) dari tempatnya. Abnormalitas yang paling mudah dikenali adalah sindroma down atau down”s syndrom, yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromoson di kromosom 21.

2.   Genetik Dan Lingkungan

Dari semua area dimana pengaruh genetik dan lingkungan saling berinteraksi mempengaruhi seorang anak, maka ada dua aspek yang mengundang perbedaan pendapat paling kontroversial yaitu berkaitan dengan perbedaan jender yaitu perbedaan antara laki-laki dengan perempuan; dan yang kedua adalah berkaitan dengan peranan, sifat-sifat serta asal-usul intelegensi.

3.  Perbedaan Gender

Sering kita dengar bahwa laki-laki lebih rapuh dibandingkan perempuan, hal ini berlanjut saat mereka dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Laki-laki lebih terbuka dibandingkan perempuan terhadap kemungkinan bermacam-macam kelainan yang sangat luas berfariasi termasuk cerebral palsy, infeksi, keterbelakangan mental dan beberapa kesulitan belajar. Jhon Money (dalam Lamsdown dan Walker, 1996) mengatakan bahwa hormon mengarahkan anak atau individu untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelamin, namun pengalaman anak akan mempengaruhi apakah pengaruh hormonal tersebut akan hilang atau diperkuat.

4.      Intelegensi

Intelegensi adalah kualitas mental yang didasari keberhasilan seseorang di sekolah. Beberapa psikolog mengemukakan bahwa sebenarnya ada dua faktor utama yaitu pertama adalah faktor umum  (general factors), yang mendasari kemampuan intelektual, dan kedua adalah serangkaian kemampuan khusus (spesific abilities). Keberadaan kemampuan umum ini menjelaskan mengapa ada kecenderungan bila seseorang memiliki kemampuan yang baik dalam satu bidang, juga dia baik pada beberapa bidang lain. Dilain pihak gagasan mengenai kemapuan khusus dapat menerangkan mengapa, contohnya, mengapa ada orang-orang yang amat mahir dalam mengadakan negosiasi, namun gagal dalam matematika.

5.      Kontrol Sosial

Konteks dimana seorang anak atau individu tinggal memegang peranan amat penting karena perubahan-perubahan yang terjadi memberikan pengaruh pada setiap tahap usia aspek dan perkembangan. Bagaimana konteks sosial tersebut berpengaruh pada anak akan dibahas di bawah ini:

1) Keluarga

Keluarga adalah konteks pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia secara fisik melalui kegiatan bermain dan menjelajah objek-objek yang berada di sekitarnya. Kelekatan dengan orangtua dan saudara kandung biasanya berjalan sepanjang kehidupan dan menjadi model saat membina hubungan dalam dunia yng lebih luas, seperti tetangga, sekolah, dan masyarakat di sekitar tempat kita tinggal.

Dalam keluarga, anak belajar menggunakan bahasa, keterampilan-keterampilan tertentu, nilai-nilai sosial dan moral yang berkembang dalam kebudayaan dimana mereka tinggal. Parke dan Burke (1998:dalam Berk, 2005), kehangatan, kebahagiaan atau kepuasan dalam ikatan keluarga meramalkan kesejahteraan psikologis sepanjang tentang perkembangan individu. Sebaliknya, isolasi atau keterasingan dari ikatan keluarga seringkali dihubungkan dengan adanya masalah dalam perkembangan seseorang. Penelitian-penelitian mutakhir memandang keluarga sebagai suatu jejaring dari hubungan yang saling memiliki ketergantungan satu sama lain (interdependent). Bronfenbrenner menyebutnya sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh bidirectional (bidirectional influences), artinya perilaku atau respon dari setiap anggota keluarga dipengaruhi dan saling mempengaruhi anggota keluarga yang lainnya. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung.

a. Pengaruh yang bersifat langsung (direct influences)

Perilaku salah seorang anggota keluarga memperkuat bentuk reaksi yang terjalin dengan anggota keluarga lainnya, dan pada gilirannya bentuk reaksi tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan kesejahteraan anak. Suatu perilaku terbentuk sebagai reaksi yang diterima dari lingkungan, sementara bagaimana lingkungan bereaksi juga dipengaruhi oleh perilaku yang ditampilkan.

b. Pengaruh yang bersifat tidak langsung

Dampak dari hubungan dalam keluarga terhadap perkembangan anak menjadi lebih rumit ketika kita menyadari bahwa hubungan antara dua anggota keluarga dipengaruhi oleh kehadiran orang lain dalam lingkungan mereka, atau Bronfenbrenner (dalam Berk, 2005) menyebutnya sebagai pihak ketiga (Thirt parties). Pihak ketiga dapat menjadi pihak yang memberi dukungan dalam perkembangan. Kehadiran anak diantara kehidupan orangtua juga mempengaruhi hubungan orangtua mereka. Kekuatan saling pengaruh-mempengaruhi dalam keluarga bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan, begitu salah satu anggota keluarga beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi pada anggota lain.misalnya ketika seorang anak sudah berhasil menguasai keterampilan yang baru, maka orangtua menyesuaikan cara mereka menghadapi anak sesuai dengan kemampuan baru yang dimiliki oleh anak. Orangtua merubah caranya menghadapi anak sejalan dengan perkembangan anak, sebaliknya perubahan yang terjadi pada orangtua juga mempengaruhi anak dalam berperilaku. Perubahan-perubhaan dalam lingkungan yang muncul bersamaan dengan perkembangan anak juga mempengaruhi cara orangtua mengasuh anaknya.

2) Status Sosial, Ekonomi dan Fungsi Keluarga.

Dalam banyak budaya, maka status sosial ekonomi mempengaruhi kapan seseorang anak memutuskan akan menjadi orangtua dan besarnya anggota keluarga. Penelitian-penelitian di Amerika memperlihatkan bahwa orang-orang yang pekerjaannya memerlukan keterampilan tidak terlalu khusus dan khusus misalnya penjaga sesuatu, dll. Cenderung menikah dan memiliki anak lebih cepat (muda) dengan jarak kelahiran anak lebih dekat dan jumlah anak lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan kantoran dan profesional. Kedua kelompok ini juga memiliki nilai-nilai dan harapan yang berbeda dalam mengasuh anak-anak mereka.

    Kondisi kehidupan dalam keluarga dapat membantu kita untuk memahami mengapa keadaan seperti ini dapat muncul. Orangtua dengan status sosial ekonomi lebih rendah seringkali merasa tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki pengaruh saat menjalin hubungan diluar kehidupan rumah atau dalam masyarakat. Namun sebaliknya dengn orangtua yang memiliki sosial ekonomiu lebih tinggi, mereka nampaknya lebih dapat mengontrol kehidupan mereka.

3) Kemiskinan.

    Kemiskinan membuat kesehatan fisik memburuk, kemampuan kognitif atau kecerdasan berkurang atau tidak berkembang optimal, kemampuan akademis menurun, putus sekolah, gangguan jiwa dan meningkatkan perilaku antisosial atau kenakalan. (Poulton dkk., 2000; Secombe, 2002; dalam Berk, 2005). Selain anak maka stres yang muncul secara terus menerus akibat kemiskinan ini membuat orangtua menjadi depresi, mudah marah, mudah tersinggung, dan pada akhirnya akan mengganggu perkembangan anak.

4) Perbedaan budaya.

    Masyarakat tempat seorang anak dilahirkan masih memberikan pengaruh yang paling besar. Setiap negara, setiap suku daya dalam suatu negara, memiliki cara-caranya tersendiri dalam memperlakukan seorang bayi dan anak , mereka juga memiliki harapan yang khas. Di satu sisi beberapa ahli menekankan pada adanya faktor genetik yang menyebabkan munculnya perbedaan. Sementara di sisi yang lain lebih menekankan kepada adanya perbedaan pola pengasuhan, mereka melihat bila anak-anak di Afrika ini mendapat perlakuan yang sama seperti anak-anak di Barat, maka mereka akan belajar berjalan dengan kecepatan yang sama.

    Bila kita cermati, maka di seluruh dunia ini amat banyak perbedaan-perbedaan yang dapat kita amati, mengenai bagaimana cara-cara setiap budaya memperlakukan bayi-bayi yang baru lahir. Hampir semua bangsa, melalui sistem pendidikan di sekolah, secara didasari maupun tidak cenderung menekan anak-anak, agar mereka mematuhi nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Bila mereka tidak patuh pada nilai-nilai tersebut, maka hukuman atau “label” tertentu akan diberikan pada anak tersebut.

5) Ketangguhan (resiliency)

    Ketangguhan (resiliency) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dan dengan kemampuan tersebut, individu mampu bertahan dan berkembang secara sehat serta menjalani kehidupan secara positif dalam situasi yang kurang menguntungkan atau penuh dengan tekanan. Hal lain yang perlu dipahami bahwa ketangguhan itu adalah suatu kemapuan yang dimiliki oleh anak karena adanya proses belajar. Saat seorang anak merasa tidak pasti maka mereka akan melihat kepada dean meminta dukungan kepada orangtuanya dengan tanda-tanda tertentu seperti adanya bahasa tubuh tertentu yang diberikan sebagai dukungan, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan tepat. Dengan demikian, interprestasi anak terhadap situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dipelajari dari bagaiman orangtua berinteraksi terhadap kebutuhan mereka.

    Penelitian yang panjang dilakukan oleh banyak peneliti untuk melihat faktor-faktor apa yang melindungi seorang anak dari kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari lingkungan yang penuh dengan tekanan. Ditemukan adanya empat faktor utama, yaitu:

a.       Karakteristik pribadi.

Karakteristik bawaan seorang anak dapat mengurangi dampak negatif akibat paparan yang terus menerus dari situasi yang penuh dengan tekanan atau mengarahkan pada keadaan yang lebih buruk. Intelegensi yang tinggi dan bakat-bakat sosial yang bermanfaat merupakan faktor protektif.

b.      Pengasuhan yang penuh kehangatan.

Hubungan yang dekat dengan paling tidak salah satu orangtua yang penuh dengan kehangatan, meletakkan harapan yang tinggi dan tepat pada anak, memantau kegiatan anak dan menciptakan  lingkungan rumah yang dapat menumbuhkan ketangguhan pada anak. Faktor ini tidak dapat lepas dari karakteristik yang dimiliki oleh anak.

c.       Dukungan sosial selain keluarga inti.

Contohnya :  Aam memiliki paman  yang senang memperbaiki mobil serta memiliki bengkel kecil, meskipun sederhana namun keluarga paman beserta anaknya yang sebaya dengan Aam dengan tangan terbuka menerima kedatangan Aam setiap sabtu dan minggu ke bengkel mereka yang sederhana yang untuk turut membantu-bantu. Secara tidak didasari, paman dan keluarganya  menjadi model bagi Aam untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan.

d.      Masyarakat yang perduli.

Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, kelompok keagamaan dan organisasi lainnya mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yang amat penting. Penelitian dalam bidang ketangguhan memperlihatkan hubungan yang komplek antara faktor bawaan dengan lingkungan. Apapun alasannya, maka satu hal yang perlu mendapatkan perhatian penuh adalah bahwa untuk mengoptimalkan perkembangan seorang anak, maka faktor resiko harus diperkecil dan faktor protektif diperkuat.

6) Penanganan.

Orangtua tentu saja akan memerlukan bantuan pada ahli bila ternyata anaknya mengalami kelainan. Ada beberapa jenis yang disarankan, sebagai berikut:

a.    Penanganan Medis.

Penting bagi orangtua mengetahui dengan jelas apa efek samping dari obat yang akan diberikan  pada anak mereka.

b.        Terapi Bermain.

Terapi bermain adalah salah satu bentu psikoterapi yang digunakan bagi anak-anak lebih kecil untuk mengatasi keterbatasan verbal mereka.

c.         Terapi Perilaku.

Adalah mengajarkan anak perilaku baru dengan cara mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru atau mengubah proses kognitif dan emosional anak.

d.        Terapi Keluarga.

Dalam terapi ini semua anggota keluarga yang terkait, bukan hanya anak, bertemu bersama-sama dengan terapis dengan tujuan memecahkan masalah mereka.

e. Fisioterapis

    Bagi anak-anak dengan kelainan yang memerlukan fungsi anggota tubuh meskipun kelainan-kelainan pada anak seringkali muncul bukan karena penyebab tunggal, maka kelainan pada anak harus didefinisikan dalam pemahaman penyimpang dari perilaku normal dan dibandingkan dengan pencapaian yang biasa dicapai oleh anak-anak lain dalam rentang usia yang sama.


LAYANAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan layanan sebagai perihal atau cara melayani. Alwi Hasan (2005: 646) mendefinisikan pelayanan sebagai “(1) perihal atau cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang”. Jadi layanan dapat diartikan  sebagai usaha yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Layanan anak berkebutuhan khusus merupakan layanan yang diberikan oleh seseorang (guru) kepada orang lain (anak berkebutuhan khusus) untuk memenuhi kebutuhannya. Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa “Warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan layanan khusus”. Menurut Deden Saeful Hidayat & Wawan (2013: 3-4) sesungguhnya mereka yang termasuk anak berkebutuhan khusus adalah “Anak yang secara pendidikan memerlukan layanan spesifik yang berbeda dengan anak normal pada umumnya”. Oleh karena itu mereka yang termasuk anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialaminya atau sesuai dengan jenis kebutuhan yang dimiliki anak yang bersangkutan.

Menurut Bratanata (1975: 87) layanan ialah “Pemberian bantuan atau bimbingan kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya agar mereka dapat belajar dengan baik”. Sekolah tidak hanya memberikan layanan kepada anak normal pada umumnya melainkan juga kepada anak berkebutuhan khusus. Sekolah harus memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan serta potensi yang dimiliki siswa yang bersangkutan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan inklusif harus mampu memberikan layanan, khususnya layanan yang berkaitan dengan layanan akademik serta layanan non-akademik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Hal-hal yang berkaitan dengan layanan akademik yaitu peserta didik, kurikulum, sarana prasarana, serta pendidik.

PENGERTIAN PERLAKUAN GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Perlakuan guru terhadap anak berkebutuhan khusus atau yang bisa disebut dengan layanaan pendidikan yang diberikaan guru kepada siswa berkebutuhan khusus. Menurut Wardani (2013: 2.6), layanan pendidikan mempunyai makna yang cukup besar karena memang mereka memerlukan pelayanan ekstra, yang berbeda dari layanan yang diberikan kepada orang-orang yang tidak menyandang kelainan. Sesuai dengan jenis kelainan yang mereka sandang mereka mempunyai perbedaan dalam dalam kemampuan belajar, perkembangan sosio-emosional yang berdampak pada kemampuan bersosialisasi, serta kondisi fisik dan kesehatan. Pemerintah diharapkan mampu melayani kebutuhan anak berkebutuhan khusus dalam hal pendidikan dengan baik dan layak. Dalam kutipan buku karangan Wardani (2013 : 2.28) menjelakan jika pelayanan untuk anak berkebutuhan khusus dapat dideskripsikan sebagai berikut:

a. Layanan sekolah biasa

Pada layanan ini anak berkebutuhan khusus yang memenuhi syarat bersekolah bersama-sama dengan anak lain disekolah biasa, model ini merupakan model intergrasi penuh dan merupakan model yang diingini oleh penganut inklusi, yang menghendaki agar secara penuh dilayani disekolah biasa yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

b. Sekolah biasa dengan guru konsultan

Model layanan ini, ABK bersekolah di sekolah biasa. Sekolah tersebut dibantu oleh guru pendidik khusus sebagai konsultan bagi para guru, kepala sekolah, dan orangtua ABK yang ada disekolah tersebut.

c. Sekolah biasa dengan guru kunjung

Model ini hampir sama dengan model guru konsultan. ABK besekolah di sekolah biasa, dengan para guru yang mengajar di sekolah tersebut dibantu oleh guru kunjung, guru kunjung adalah guru pendidikan khusus yang bertugas lebih dari satu sekolah.

 

d. Model ruang sumber

Dengan menerapkan ruangan bimbingan khusus bagi siswa. ABK belajar bersama dengan siswa normal namun sewaktu-waktu, ABK meninggalkan kelas biasa dengan pergi keruang sumber untuk mendapat bimbingan dari guru pembimbing khusus (GPK). Dengan demikian, kekuatan model ini terletak pada pemenuhan kebutuhan ABK secara teratur sementara dia tetap dapat berinteraksi dengan anak normal.

e. Model khusus

Model ini menyediakan layanan bagi anak ABK dalam satu sekolah khusus di siang hari (jam sekolah), sedangkan pada waktu-waktu diluar hari/jam sekolah para ABK berada di rumah bersama keluarga dan di lingkungan masyarakat sekitarnya.

f. Model kelas khusus siang hari

Model ini layanan untuk anak ABK diberikan kelas-kelas terpisah dari anak normal, dengan demikian ABK mempunyai kelas sendiri dengan para guru disiapkan untuk melayani ABK jenis tertentu

g. Model sekolah panti asuhan atau rumah sakit

Dalam model ini layanan pendidikan bagi ABK diberikan di panti-panti asuhan atau rumah sakit tempat ABK dirawat. Misalnya untuk anak yang mebutuhkan perawatan intensif  atau penyandang tunaganda, panti ataau rumah sakit merupakan tempat tinggal mereka, sekaligus tempat bagi pendidikan mereka. (Djamarah, 2002 : 49). Hal ini juga berarti bahwa seorang guru seharusnya mampu memahami karakteristik kelasnya agar pembelajaran dapat efektif dan efisien sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan perbedaan individual anak.

Kesiapan seseorang untuk menjadi guru ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai bidangnya, minat, bakat, serta keselarasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan sikap terhadap bidang profesinya. Untuk memastikan kesiapan guru kelas dalam menangani anak berkebutuhan khusus, guru kelas diharuskan memiliki kompetensi memadai yang dapat diperoleh melalui pembinaan. Pembinaan disini lebih mengarah pada pembinaan profesi berupa penyetaraan, sertifikasi, pelatihan ataupun penataran. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengenal dan memahami anak berkebutuhan khusus serta meningkatkan kinerja dan profesionalitas guru di dalam kelas. Ketersediaan serta kesiapan guru kelas dan guru pembimbing khusus adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam memberikan program pendampingan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, guru kelas dan guru pembimbing khusus harus senantiasa meningkatkan kesiapannya dalam menangani anak berkebutuhan khusus.

BENTUK PERLAKUAN GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Ginintasasi (2009:8) mengemukakan beberapa prinsip bimbingan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Prinsip bimbingan tersebut kemudian dimaknai oleh peneliti sebagai perilaku guru kelas yang memiliki kesiapan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Bentuk perlakuan sebagai berikut:

a.       Perilaku menunjukkan perasaan positif, yaitu perasaan peduli dan bertanggung jawab untuk memberikan bantuan pada anak berkebutuhan khusus.

b.      Perilaku beradaptasi dengan anak. Adaptasi dengan kondisi anak berkebutuhan khusus yang dimaksud berupa menyesuaikan program pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus. Perilaku memperhatikan dan mengakui inisiatif serta cara belajar anak secara  individual akan memiliki dampak yang sangat besar bagi anak berkebutuhan khusus. Bagaimanapun juga anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki perbedaan dari anak lain, sehingga program pembelajaran dan penanganan untuk anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan adaptasi dengan karakteristik individual mereka.

c.       Berbicara dengan anak, yaitu berinteraksi dalam bentuk mengajak anak untuk berpartisipasi dalam dialog mengenai isi tema yang akan dipelajari sehingga mereka terlibat secara pribadi.

d.      Memberikan pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan diberikan oleh guru kelas apabila anak mau berusaha dan mau bekerja sama atau mengikuti instruksi yang diberikan.

e.       Membantu anak untuk memfokuskan perhatiannya. Seorang guru yang baik hendaknya senantiasa memberikan saran bagi anak didiknya dan bersedia bekerja dengan mereka. Perhatian dan pengalaman bersama merupakan sebuah prasyarat untuk menjalin komunikasi yang berpengaruh bagi perkembangan anak berkebutuhan khusus.

f.        Membuat pengalaman anak menjadi bermakna. Anak didik berkebutuhan khusus akan lebih memahami sesuatu apabila memiliki pengalaman yang bermakna. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melibatkan anak berkebutuhan khusus secara langsung terhadap  pembelajaran yang dilaksanakan.

g.      Perilaku menjabarkan dan menjelaskan. Tugas lain seorang guru adalah membantu anak didiknya dalam mengaitkan materi yang mereka pelajari dengan mata pelajaran lain dan aktivitas akademik lainnya. Ini akan memberikan wawasan, membantu membentuk asosiasi, membantu anak mencapai “pengalaman nyata” yang lebih holistik, serta memancing keingintahuan dan motivasi untuk belajar. Membantu anak mencapai disiplin diri, yaitu membantu anak untuk mencapai ketaatan dan ketepatan pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar